Hadist tersebut memiliki arti: Ramadan itu pada awalnya adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, dan akhirnya adalah terbebas dari neraka.
Wakil Rektor I Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta Imam Makruf menjelaskan, dengan pembagian tersebut, maka sepuluh hari pertama di bulan Ramadan adalah hari-hari yang penuh rahmat. Rahmat diartikan sebagai kasih sayang.
"Karena hari-hari awal Ramadan itu diliputi dengan rahmat Allah, maka keutamaan yang semestinya dilakukan itu memperbanyak berbagi. Memperbanyak membagi kasih sayang atau rahmat yang diberikan Allah untuk sesama," jelasnya kepada Jawa Pos Radar Solo, Minggu (2/4/2023).
Artinya, inilah momentum bagi umat Islam untuk memperkuat amaliyah dengan menumbuhkan sifat kasih sayang kepada sesama. Sehingga ibadah Ramadan tidak untuk diri sendiri, melainkan memberi nilai dan manfaat kepada orang lain.
"Di pertengahan Ramadan ini maghfirah Allah banyak diberikan kepada hambanya. Oleh karena itu, setelah kita menguatkan kasih sayang, menebar kasih kepada sesama, dan juga mendapatkan kasih sayang Allah, di hari sepuluh hari kedua perlu memperbanyak istigfar," imbuhnya.
Memohon ampun agar puasa makin bermakna. Sehingga puasa tidak hanya menahan lapar dahaga. Melainkan juga menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan maksiat. Contohnya, menghindarkan lisan dari perkataan kotor. Menghindarkan pikiran dari yang tidak baik dan lain sebagainya.
"Dan diiringi dengan hati yang selalu istigfar, memohon ampunan Allah. Maka orang yang berpuasa sampai 10 hari kedua itu insyaAllah akan mendapat ampunan dari Allah SWT," tambahnya.
Setelah itu, pada sepuluh hari ketiga Allah akan membebaskan hambanya dari api neraka. Siapa yang dibebaskan? tentunya orang-orang yang sudah selesai dari dosanya. Serta sudah dimaafkan kesalahannya.
"Maka kemudian untuk menyempurnakan ibadah puasa di sepuluh hari ketiga. Seluruh hal yang membebani kita agar kita bisa selamat dari api neraka, dan masuk ke surga Allah, kemudian di akhir Ramadan kita disunnahkan atau diwajibkan untuk mengeluarkan zakat fitrah. Jadi akan membersihkan orang berpuasa dan memberikan makanan kepada sesama yang berhak mendapatkan zakat," jelasnya.
Tak hanya itu, di sepuluh hari terakhir umat Islam dituntun untuk beri'tikaf. Menyambut turunnya Lailatul Qadar.
"Maka di situlah puncak karunia Allah ada di sepuluh hari terakhir. Dan pada akhirnya orang-orang yang berpuasa dengan benar derajat ketaqwaannya meningkat. Kemudian dia dibebaskan dari api neraka," tambahnya.
Namun di sisi lain, Imam mengatakan sejatinya hadist tentang tiga pembagian ini dianggap lemah atau dhaif. Namun masih digunakan untuk menjelaskan fadhail amal.
"Meskipun hadist itu disebut hadist lemah. Tetapi proses ibadah di bulan ramadan selama satu bulan itu sesungguhnya satu tahapan dari awal sampai akhir, semakin hari semakin waktu akan semakin memperkuat keimanan. Keimanan ini terkait dengan bagaimana hubungan kita sesama manusia dan hubungan dengan Allah SWT," jelasnya.
Ibadah puasa itu sendiri, lanjutnya, yang pokok adalah habluminallah. Pasalnya puasa itu rahasia, tidak ada yang tahu kecuali Allah dan diri kita sendiri. Tapi amaliah di luar puasa itu ada habluminannas. Misalnya memberi untuk berbuka puasa, mengeluarkan zakat fitrah, zakat mall, dan lainnya.
"Maka berpadulah antara habluminallah dan habluminannas. Hubungan dengan allah, hubungan dengan manusia itu terpadu secara utuh selama menjalankan ibadah di bulan Ramadan. Di situlah terjadi proses peningkatan amal dari waktu ke waktu. Yang puncaknya adalah akhir Ramadan dengan idul fitri," terangnya. (nis/adi) Editor : Damianus Bram