Tantangan lainnya yang harus dihadapi PTS, yakni tuntutan menyiapkan sumber daya manusia (SDM) unggul dan berkompeten. Mengingat sistem pendidikan di Indonesia mengalami transformasi besar-besaran, dewasa ini.
“Maka PTS harus cepat beradaptasi. Supaya tetap sehat dan tidak akan tertinggal, hingga membuat PTS kurang eksis,” terang Sekretaris Asosiasi PTS Soloraya Taufiq Nur Muftiyanto, Minggu (16/4/2023).
Adaptasi tersebut dapat dimulai dari transformasi internal PTS. Optimalisasi akreditasi, menjadi salah satu cara agar PTS bertahan dan menjaga eksistensinya. Akreditasi merupakan salah satu tolok ukur perguruan tinggi, dalam menjalankan suatu pendidikan yang baik dan bermutu tinggi. PTS yang terakreditasi BAN-PT, pasti tidak diragukan lagi kualitas dan sistem pendidikannya.
“Mempertahankan akreditasi dapat dilakukan dengan berusaha, serta meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan di kampus. Termasuk meningkatkan kualitas SDM dan tri dharma dosen-dosen yang ada,” imbuh Taufiq.
Menjaga eksistensi agar tetap berkualitas, PTS harus memiliki pembeda dan branding yang mumpuni. Taufiq menyebut ada 65 PTS yang tersebar di eks Karesidenan Surakarta. Semua wajib memiliki keunggulan dibanding kampus lainnya.
Selain itu, eksistensi pusat karir (career centre), juga penting bagi kemajuan PTS. Strategi tersebut untuk membuktikan, bahwa lulusan atau alumni PTS tetap berkualitas.
“Branding harus melekat dengan PTS untuk optimalisasi dan pemneda dengan kampus lain. Sedangkan pusat karir dapat memberikan warna lain bagi PTS,” bebernya.
Setali tiga uang, Rektor Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Surakarta Winarti mengaku, saat ini PTS dihadapkan tantangan cukup berat. Pandemi Covid-19 sangat berdampak dalam operasional dan perkembangan PTS. Membuat kondisi ekonomi orang tua calon mahasiswa menurun. Di sisi lain, PTS sangat bergantung pada jumlah penerimaan mahasiswa.
“Lumayan berat. PTS masih bergantung mahasiswa baru. Pandemi kemarin membuat kemampuan (finansial) calon mahasiswa menurun. Sehingga akan berdampak pada pendanaan PTS,” paparnya.
Selain itu, PTS juga dihadapkan stigma masyarakat yang menilai perguruan tinggi negeri (PTN) jauh lebih unggul. Ini peer (pekerjaan rumah) bagi semua PTS untuk mengubah image tersebut.
“Kami terus berupaya meningkatkan mutu dan kualitas SDM PTS. Salah satunya mendorong SDM agar mau sekolah lagi dengan beasiswa. Bagi yang sudah (bergelar) doktor, kami dorong menjadi guru besar. Dari segi fasilitas juga terus kami tingkatkan,” ucapnya. (ian/fer/dam) Editor : Damianus Bram