Pantauan Jawa Pos Radar Solo, di SMAN 1 Surakarta beberapa wali murid berdatangan sejak pagi hari. Para orang tua siswa membawa berkas-berkas pendaftaran yang ingin mereka konsultasikan.
Salah satu orang tua murid Rosida, 48, dari Banjarsari mengaku kesulitan untuk mendaftar. Selain itu, dia juga merasa bingung lantaran diminta verifikasi data ulang.
“Masih bingung juga bagaimana cara membuat akun. Jadi anak saya mengajak untuk ke sekolah saja biar nanti dibantu buat akun ini caranya seperti apa. Tadi sekalian juga verifikasi berkas,” ucap Rosida, Kamis (15/6/2023).
Hal senada diutarakan Siti Rodiah, wali murid lainnya dari Karanganyar. Dia mengaku lebih merasa aman setelah datang ke sekolah untuk pendaftaran anaknya. Dia mengaku harus begadang semalaman untuk bisa membuat akun PPDB. Dia sengaja membuat akun saat dini hari, karena sinyal dan server PPDB yang lebih mudah diakses.
“Servernya kalau siang hari itu susah, makanya saya bikin akun jam satu dini hari tadi. Ini tinggal verifikasi berkas ke SMAN 1 Surakarta. Saya mengambil jalur prestasi, karena dari luar kota,” ucapnya.
Wali murid lainnya, Novi Andrian juga mengaku sempat kebingungan. Selain terkendala website yang sulit diakses, banyaknya berkas PPDB membuatnya juga sedikit bingung. Dia mengatakan memilih mendaftar ke sekolah SMA negeri karena dekat dengan rumah dan ingin anaknya bisa lanjut ke perguruan tinggi.
“Hari ini saya sudah verifikasi, namun sempat ada kendala di bagian penyesuaian angka yang sempat gagal terus menerus, namun sekarang sudah bisa” ucapnya.
Menanggapi polemik ini, Wakil Kepala SMAN 1 Surakarta Setya Anung Harianto mengatakan, pihaknya sudah menyediakan fasilitas khusus bagi untuk verifikasi berkas. Termasuk menyiapkan beberapa petugas yang siap membantu jika orang tua masih kebingungan membuat akun.
“Kami siapkan tiga ruang di sekolah sebagai posko PPDB. Ada ruang untuk pembuatan akun dan verifikasi berkas. Kami juga siapkan beberapa laptop sekolah untuk membantu wali murid yang kesulitan membuat akun,” terang Setya Anung.
Dia mengakui mindset orang tua saat ini masih sama, yakni siapa yang cepat datang ke sekolah, dia yang akan masuk. “Padahal itu bikin akun PPDB bisa dimana saja. Tentu harus sudah paham alurnya dulu. Namun, sesuai arahan dinas kami yang ada di sekolah tetap siap membantu,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah VII Jawa Tengah Suratno menuturkan, daya tampung SMA/SMK negeri di Kota Solo tidak akan cukup untuk menampung seluruh lulusan SMP di Solo. Hanya sekira 74 persen siswa lulusan SMP sederajat di Solo yang bisa tertampung.
“Saya yakin tidak semua orang tua mendaftarkan ke negeri, karena mereka punya pilihan-pilihan untuk sekolah di swasta,” ucapnya.
Sebagai solusi persoalan PPDB, dinas pendidikan membuka kuota tambahan dengan dibukanya SMAN 9 Surakarta di wilayah Pasar Kliwon. SMAN 9 dipastikan menerima empat kelas atau rombongan belajar (rombel) PPDB 2023.
“Setelah kami bicarakan dengan pemerintah kota, dan konsultasi dengan pemerintah provinsi serta melihat kondisi di lapangan. Kami putuskan menjadi empat rombel (setelah sebelumnya hanya tiga rombel),” ucap Plt Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII Jawa Tengah Suratno.
Suratno menghimbau orang tua yang akan mendaftarkan anaknya ke SMA/SMK negeri diharapkan tidak panik. Informasi lengkap terkait PPDB SMAN di Solo atau Jawa Tengah secara umum melalui laman resmi https://ppdb.jatengprov.go.id.
“Jika orang tua kesulitan melakukan memahami baik dari segi juknis maupun teknis saat melakukan pendaftaran online silahkan datang ke sekolah. Sekolah sudah kami siapkan posko dan petugas yang siap membantu,” tandasnya. (mg1/ian/nik) Editor : Damianus Bram