RADARSOLO.COM- Permainan tradisional sejatinya punya peran yang positif. Mengandung nilai edukasi yang tinggi bagi anak.
"Permainan tradisional seperti gobak sodor, betengan, dan lain sebagainya sebenarnya banyak memfasilitasi komunikasi," terang psikolog anak sekaligus Kaprodi Pendidikan Guru PAUD FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS) Dr. Anayanti Rahmawati.
Permainan tradisional mengantarkan anak menjadi makhluk sosial di alam nyata, bukan sekadar virtual friends di dunia maya saja.
Bermain permainan tradisional nantinya dapat mendorong kepedulian dan sensitivitas anak-anak, terhadap lingkungan terdekatnya.
Permainan berbasis digital seringkali membuat anak-anak tidak sensitif dengan lingkungan terdekat. Mereka kurang memiliki rasa kepedulian sosial.
"Karena banyak memfasilitasi komunikasi, maka bonding antara orang tua dan anaknya disitu. Orang tua dan anak menjadi bisa lebih dekat," ungkapnya.
Pembentukan karakter juga bisa ditempa dari seringnya anak bermain permainan tradisional.
Mulai dari anak mudah beradaptasi, kreatif, bisa bergotong royong, mandir dan banyak hal positif lainnya.
"Permainan tradisional itu kan biasanya berkumpul, berinteraksi, dan berkomunikasi. Permainan juga ada aturan main yang setara,” ujar Anayanti.
Misalnya ketika orang tua bermain permainan tradisional dengan anak, dan orang tua yang kalah. Tidak ada hierarki.
Permainan gobak sodor memiliki peran mengajak anak-anak membiasakan karakternya bersolidaritas, berkompetisi dengan riang gembira, menumbuhkan sportivitas, serta berkomunikasi aktif.
Sementara permainan betengan, bekelan, dakon dan lainnya juga punya banyak hal-hal positif lainnya. Yang pasti interaksi mereka yang bermain akan cair, dan tak akan memunculkan egoisme disana.
"Permainan tradisional juga bisa menjadi sarana mendekatkan seluruh elemen keluarga besar. Dengan saudara-saudara, keponakan anak yang sebaya," pungkasnya. (kwl/nik)
Editor : Tri Wahyu Cahyono