Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Persiapan Matang, Resital Karawitan Mahasiswa Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta Bikin Bangga

Tri wahyu Cahyono • Minggu, 14 Januari 2024 | 15:53 WIB
Penampilan mahasiswa Seni Karawitan Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Surakarta pada event Resital Karawitan II.
Penampilan mahasiswa Seni Karawitan Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Surakarta pada event Resital Karawitan II.


RADARSOLO.COM- Pertunjukan resital karawitan periode II Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta berjalan sukses.

Sekretaris Jurusan Seni Karawitan, Siswati menilai, selama dua hari pertunjukan, tidak ditemukan kendala berarti.

“Karena kami sudah mengantisipasi dari awal. Acara pun berjalan sesuai rundown dan selesai tepat waktu,” kata Siswati kepada radarsolo.com.

Siswati menambahkan, pertunjukan kali ini berakhir tidak selarut pertunjukan tahun-tahun sebelumnya. Sehingga tidak terlalu menguras energi dan waktu.

Hal ini, menurutnya, tidak terlepas dari persiapan secara matang. Tidak dalam waktu satu-dua hari, tetapi melalui proses panjang.

“Gedung karawitan tidak pernah sepi karena para penyaji latihan. Bahkan beberapa kelompok penyaji sampai latihan di pendapa, sehingga setiap hari ada suara karawitan,” bebernya.

Siswati mengapresiasi kerja keras mahasiswa dan dosen dalam pertunjukan yang digelar selama dua hari di Teater Besar ISI Solo ini.

“Baik mahasiswa penyaji, tim produksi, maupun dosen telah melakukan yang terbaik,” katanya.

“Ini upaya dari kami untuk tetap mengenalkan (karawitan). Toh sebenarnya (pertunjukan) ini adalah luaran dari dua mata kuliah, yaitu Manajemen Seni Pertunjukan dan Resital,” imbuh Siswati.

Dia berharap, melalui pertunjukan ini, seni karawitan mendapatkan apresiasi yang lebih besar.

Mahasiswa penyaji, Kristantyo Dwi Prasetyo menambahkan, persiapan tidak hanya dilakukan dengan latihan menabuh gamelan dan menembangkan gending.

Aspek spiritual pun dilakukan dalam persiapan agar pertunjukan berjalan lancar. Adalah doa bersama yang disebut Muryo Raras.

“Jadi Muryo Raras itu adalah sebuah adat istiadat yang ada di Solo, terutama di keraton, yaitu berdoa dengan sarana gamelan,” katanya.

“Tetapi yang ditabuh tidak semua gamelan, hanya kendhang, rebab, gender, gong, kenong, suling, dan gambang,” terang pemusik gamelan kendhang tersebut.

Yani, anggota keluarga penyaji mengaku bangga dengan adiknya yang sukses menyajikan karawitan. (zia/wa)

 

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#isi surakarta #fakultas seni pertunjukan #resital karawitan #FSP