RADARSOLO.COM – Kegiatan akhir semester I di SLBN Solo ditutup dengan gelar karya bertajuk Karya Anak Berkebutuhan Khusus (Kaktus), Rabu (17/12). Ratusan siswa ABK menampilkan berbagai karya vokasi, sebagai wujud pengembangan keterampilan dan kemandirian.
Kepala SLBN Solo Erna Muchlishatun mengaku bangga dengan seluruh karya siswanya. Apalagi karya yang dihasilkan fokus pada bidang life skill.
“Vokasi di sini ada otomotif, tata boga, tata kecantikan, batik, kriya kayu, suvenir, hingga karawitan,” jelas Erna.
Erna menambahkan, gelar karya ini tak lepas dari dukungan para guru. Para guru memberikan bimbingan vokasi untuk siswa SMALB tiap Senin-Selasa, disusul siswa SMPLB tiap Rabu-Kamis.
“Selain itu, masing-masing wali kelas melakukan asesmen terkait bakat dan minat para peserta didiknya,” imbuh Erna.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Cabang Dinas (Cabdin) Pendidikan Wilayah VII Jateng Agung Wijayanto menambahkan, kebutuhan anak inklusi butuh partisipasi seluruh elemen masyarakat.
“Gelar karya ini bentuk keseriusan beberapa stakeholder, untuk terus mengupayakan agar soswa SLB tidak hanya mandiri, tetapi juga menghasilkan karya yang memiliki nilai ekonomi untuk masa depannya,” beber Agung.
Produk-produk karya siswa SLB ini juga mendapat sorotan Wakil Wali Kota Solo sekaligus Bunda Inklusi Astrid Widayani. Astrid menegaskan, dukungan pemkot terus hadir bersama anak-anak inklusi.
“Kami senang bisa membersamai anak-anak dalam mendapatkan bekal. Tidak hanya di bidang akademik, tetapi juga keterampilan yang cukup untuk berkontribusi di lingkungan masyarakat," kata Astrid.
Ia berharap prestasi dan keterampilan anak-anak bisa berkelanjutan. Menurutnya hal ini sangat diperlukan sebagai bekal kemandirian dan kebermanfaatan bagi sekitar.
Di sisi lain, beragam prestasi siswa inklusi diwujudkan salah satunya dalam bentuk kerajinan batik yang menjadi ikon Kota Solo. Siswa kelas 9 SLBN Surakarta Apri Restu Pamungkas turut berpartisipasi aktif dalam gelar karya ini. Ia menunjukkan kontribusinya melalui karya batik hasil kerja keras dibantu oleh guru pendamping Maryuni.
"Saya sangat senang bisa menunjukkan sedikit karya yang bisa saya lakukan yaitu dengan produk batik. Dengan bantuan Ibu Maryuni kami diajarkan untuk memproduksi batik sendiri," ujar Apri.
Sedangkan Maryuni selaku guru vokasi batik menjelaskan anak-anak diajarkan proses pembuatan batik mulai dari batik tulis, batik ikat, dan batik ciprat.
"Setiap prosesnya selalu kami bimbing. Dari awal pembuatan pola, penggodokan kain, menyanting hingga pemasaran kita bantu. Saya yakin dengan dukungan guru, anak-anak di sini bisa lebih menggali bakat dan minatnya," pungkasnya. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto