Jumat, 20 Jul 2018
radarsolo
icon featured
Olahraga

Suka Duka Pelatih Sekaligus Pencari Atlet Difabel

Jumat, 12 Jan 2018 13:46 | editor : Bayu Wicaksono

Komaruddin (kiri) dan Robby Suryo Bitono saat memimpin latihan atlet.

Komaruddin (kiri) dan Robby Suryo Bitono saat memimpin latihan atlet. (ADI PRASETYAWAN/RADAR SOLO)

SOLO - Melahirkan atlet muda disabilitas gampang-gampang susah. Tim pelatih harus mendapatkan kepercayaan orang tua agar dapat mendidik calon atlet. Ini menjadi bagian tersulitnya.

Suasana mess Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Difabel Jawa Tengah di Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari siang kemarin tidak terlihat aktivitas berarti. Setelah mengetuk pintu rumah berukuran 4x5 meter itu, Jawa Pos Radar Solo disambut seorang pria berbadan kekar.

Di bagian dalam rumah ada beberapa peralatan olahraga. Dua buah treadmill terlipat di ruang tamu utama, ada pula starting block lari yang berada di luar pintu. Sementara, belasan sepatu sport pelari terjajar rapi di rak. Di mess tersebut ada sembilan orang. Tujuh atlet dan dua orang pelatih. Yakni Robby Suryo Bitono, 36, dan Komaruddin, 27.

Keduanya menangani tujuh atlet yang tergabung di tim atletik PPLP difabel Jateng. Atlet PPLP Jateng sudah punya segudang prestasi. Diantaranya Kharisma Evi Tiarani peraih medali emas nomor lompat jauh T44, satu perak nomor lari 100 meter, dan satu perah lari 200 meter di ASEAN Para Games Malaysia 2017.

Adapula Figo Saputro peraih medali perunggu lari 100 meter T46/47 di ASIAN Youth Para Games 2017 di Dubai, Uni Emirat Arab. Atlet lainnya ikut meraih medali di ajang Pekan Paralympic Pelajar Nasional (Peparpenas) 2017 di Solo.

Kesuksesan atlet-atlet tersebut tak luput dari kerja keras duo pelatih bertangan dingin Robby Suryo dan Komaruddin. Keduanya melatih para atlet dengan sepenuh hati. Apalagi tak sedikit dari atlet tersebut yang memulai dari nol. Bahkan, ada yang bukan dari latar belakang keluarga atlet. Ini menjadi pengalaman menarik selama mereka blusukan mencari atlet ke penjuru Provinsi Jawa Tengah.

Atlet PPLP rata-rata berusia 13-17 tahun. Atlet yang sudah masuk kategori 17 tahun, maka sudah tidak lagi termasuk dalam atlet PPLP. Nah, tepat Juli mendatang, lima atlet sudah lulus. Itu artinya, mereka harus segera ancang-ancang mencari bibit atlet baru.

Selama blusukan,banyak cerita suka duka yang mereka alami. Robby misalnya. Pria kelahiran Solo, 17 September 1982 ini pernah dituduh tukang tipu hingga penculik anak. Tepatnya saat dirinya sedang melakukan pendekatan kepada calon atlet di daerah Bendosari, Sukoharjo Januari 2016.

Anak penyandang disabilitas yang akan dijadikan atlet itu hanya tinggal bersama kakeknya karena orang tua merantau. Tak disangka, ketika datang ke rumah anak tersebut, Robby malah dicurigai oleh keluarga hingga tetangga.

”Ya dituduh macam-macam. Tukang tipu-tipu lah, sampai dituduh mau menculik anak itu. Saya juga diinterograsi warga dan Pak RT-nya. Disuruh nunjukin KTP, tapi akhirnya saya bisa meyakinkan keluarga itu,” kenang Robby.

Guru olahraga SMK Veteran 1 Sukoharjo ini memaklumi kecurigaan keluarga anak tersebut. Sebab, mereka masih buta informasi terkait keberadaan PPLP difabel di Solo. Apalagi jika harus melepas anaknya untuk pisah tempat tinggal di waktu yang cukup lama. Setiap anak yang masuk ke PPLP akan menjalani pemusatan latihan selama beberapa bulan.

”Tidak jarang orang tua atlet eman-eman melepas anaknya. Apalagi dengan kondisi anaknya yang berkebutuhan khusus tentu tidak mudah. Takut terjadi apa-apa,” imbuhnya.

Sebelum merekrut atlet baru, Robby dan Komar harus memastikan mendapatkan restu dari orang tua si anak. Dia kadang harus bolak-balik untuk meyakinkan.

Robby pnya punya jurus tersendiri dalam merekrut atlet, bukan asal-asalan. Mulai dari kriteria postur tubuh, kondisi psikis, kemampuan motorik, power, hingga akselerasi.

”Faktor psikis juga jadi pertimbangan utama. Saya menghindari atlet-atlet yang ndablek. Meskipun tak sedikit dari mereka ada yang suka kangen keluarga dan minta pulang. Itu juga jadi pengalaman dan perlu pendekatan emosional,” bebernya.

Robby bersyukur atlet-atlet anak didiknya penurut dan tidak neko-neko. Mereka termotivasi untuk bisa meraih prestasi. Apalagi mereka banyak yang dari keluarga kurang mampu.

”Setelah menjadi atlet, mereka senang bisa mengangkat derajat dan status sosial keluarganya. Apalagi selama mengikuti pemusatan latihan semua fasilitasnya dipenuhi. Saat berprestasi, pastinya dapat penghargaan dan hadiah lumayan,” jelasnya.

Komaruddin juga punya pengalaman tidak kalah menarik. Pria asal Jepara kelahiran 18 Maret 1990 ini pernah dipusingkan dengan salah satu atlet yang ngotot ingin pulang ke rumah. Anak tersebut bahkan sempat mengancam akan bunuh diri jika tidak dijemput orang tuanya.

”Si anak kirim pesan ke orang tua kalau nggak dijemput mau bunuh diri, anak itu juga mengurung diri di kamar. Kami terpaksa memulangkan anak itu karena sudah nggak betah,” jelasnya.

Meski banyak mengalami cerita suka duka, ke dua alumni Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Solo ini nyatanya bisa membawa atlet-atletnya berprestasi. Meskipun PPLP Jateng baru didirikan 2015, ternyata turut menyumbang atlet bagi Jateng hingga National Paralympic Committee (NPC) Indonesia.

”Mencari atlet difabel itu gampang-gampang susah. Seperti di cabor atletik ada banyak kategori tingkat kecatatan. Mulai dari 44T, 45T, 35T, 38T, T20, T54, T56, dan T57. Yang paling sulit carinya kategori T44 tunadaksa kaki. Juli besok kita harus cari atlet lagi ke wilayah Jawa Tengah,” tandas Robby.

(rs/adi/bay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia