Senin, 23 Jul 2018
radarsolo
icon featured
Wonogiri

Terbelah, Lahan Sawah Mendadak Jadi Sungai

Minggu, 14 Jan 2018 18:06 | editor : Bayu Wicaksono

Irigasi sawah di Desa Trukan dan Desa Mbeton mendadak berubah menjadi sungai.

Irigasi sawah di Desa Trukan dan Desa Mbeton mendadak berubah menjadi sungai. (IWAN KAWUL/RADAR WONOGIRI)

WONOGIRI – Banjir yang menerjang sebagian Kecamatan Pracimantoro, Sabtu malam (13/1) hingga Minggu dini hari (14/1) tidak hanya menggenangi rumah warga. Lahan persawahan terbelah sepanjang hampir 1 kilometer (km) dan mendadak berubah menjadi sungai dengan lebar delapan meter.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonogiri Bambang Haryanto mengatakan, di Desa Tubokarto, banjir menggenangi rumah milik warga. Satu orang mengalami luka ringan.

“Rumah yang tergenang milik Sarikem, Samino, Marni, Warsidi, dan Pardi di Dusun Sladi RT 02 RW 3 Desa Tubokarto,” jelas Bambang Haryanto, Minggu (14/1).

Hujan dan angin juga mengakibatkan rumah Ngadiman, 75, warga Dusun Joho Lor, Desa Joho, ambruk pada Minggu (14/1) sekitar pukul 02.00. Dalam kejadian tersebut, Ngatinem, 75, istri Ngadiman mengalami luka ringan di bagian telinga dan punggung. 

“Keduanya selamat karena ada gunungan rumah, jadi semacam terkurung. Dapat dievakuasi warga sehabis subuh,” ujarnya. Untuk sementara, Ngadiman dan Ngatinem diungsikan di rumah anaknya di Watangsono, Pracimantoro. 

Kondisi saat ini, lanjut Bambang, banjir mulai surut. Ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi, warga akan segera diungsikan. Bantuan logistik sudah didistribusikan ke lokasi bencana. Begitu pula telah dilakukan penanganan korban luka ringan oleh tim medis Puskesmas Pracimantoro.

Di sisi lain, lahan pertanian mengalami kerusakan parah. Dua saluran irigasi di Desa Trukan dan Desa Mbeton yang disapu material longsor menyatu dan menyebabkan longsoran besar. Kondisi tersebut juga mengubah bentuk saluran irigasi.

“Yang awalnya lebar (irigasi) hanya sekitar 60 sentimeter, menjadi delapan hingga sepuluh meter. Kedalamannya tiga sampai lima meter. Panjanganya sekitar 900 meter, hampir satu kilometer,” beber Bambang. 

Camat Pracimantoro Warsito menuturkan, potensi rusaknya saluran irigasi sudah terlihat sejak terjadi banjir pada 28 November 2017. Ketika kembali diguyur hujan, kerusakan irigasi semakin parah. 

“Kami belum mempunyai solusi karena parahnya kondisi. Nanti akan koordinasi dengan pemkab dan BPBD,” katanya.

(rs/kwl/bay/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia