Senin, 23 Jul 2018
radarsolo
icon featured
Solo

Bergaya ala Barista, Ganjar Launching Kopi Gayeng

Kamis, 22 Mar 2018 22:10 | editor : Fery Ardy Susanto

Gubernur nonaktif Ganjar Pranowo saat launching Kopi Gayeng Ndaleme Eyang di Sumber, Solo, Kamis malam (22/3).

Gubernur nonaktif Ganjar Pranowo saat launching Kopi Gayeng Ndaleme Eyang di Sumber, Solo, Kamis malam (22/3). (BAYU WICAKSONO/RADAR SOLO)

SOLO - Sebuah kafe berjudul Kopi Gayeng Ndaleme Eyang dibuka di Solo, Kamis (22/3). Gubernur Jateng nonaktif Ganjar Pranowo didaulat me-launching kafe bergaya limasan Jawa yang berlokasi di Jalan Pajajaran Timur 1 nomor 10, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Solo. Dinamakan Kopi Gayeng karena terinspirasi tagline Provinsi Jawa Tengah, yakni Jateng Gayeng

Sejalan dengan itu, kafe ini menyajikan menu kopi single origin dengan bahan kopi dari berbagai daerah di Jateng. Launching ditandai kopi pertama yang dibuat Ganjar. Tentu saja pria berambut putih itu tak bisa sendiri. Ia masih dibimbing Aditya Rismaya Triwahjuna, 30, barista di kafe tersebut.

"Ini kopi Gunung Lawu. Kenapa dipilih? Karena saya lahir di lereng Lawu," kata Ganjar yang merupakan kelahiran Tawangmangu, Karanganyar itu. 

Dalam lima menit, Ganjar berhasil membuat secangkir kopi Lawu yang disajikan dengan cara V60 (v sixty).

"Baunya sudah kayak kopi beneran," kata Ganjar disambut tawa ratusan pengunjung yang terdiri dari wirausahawan muda Solo, relawan Ganjar, dan warga sekitar kafe yang terletak di dalam kampung itu. 

Dalam obrolan sebelum launching kafe, Ganjar mendapat penataran singkat tentang kopi dari Adit dan Abi Nesta, 38, barista di Ensikopidi. 

Dari jenis kopi, roasting, alat-alat, hingga berbagai jenis cara penyajian. Abi menjelaskan tahap-tahap pembuatan kopi yang relatif panjang. Karena buah kopi yang telah dipanen masih membutuhkan proses yang sangat panjang sebelum menjadi secangkir minuman yang dapat kita nikmati.

Buah kopi yang berwarna merah (cerry) diproses menjadi gabah (HS), lalu gabah menjadi beras (green bean) dan proses selanjutnya green bean disangrai (roasting) menjadi roast been. Barulah kemudian ditumbuk atau digiling atau dibubukkan (greender) sampai menjadi bubuk kopi yang siap melalui proses selanjutnya yaitu siap diseduh dan dinikmati.

Cara penyajian pun beraneka ragam. Dari manual brewing seperti french press, drip, aeroprress, syphon, volc brew, Vietnam drip, V60, tubruk, hingga pakai mesin seperti espresso.

Ganjar menyimak dengan seksama dan sesekali manggut-manggut. Di akhir penjelasan, ia berkomentar singkat.

"Angel ya jebule, ngertiku ya mung tubruk," katanya sembari menyeruput kopinya. 

Menurut Ganjar, Jateng kaya akan bermacam kopi yang masih belum banyak dikembangkan. Setiap daerah yang punya gunung di Jateng pasti ada kebun kopi. 

Secara umum produksi kopi di Jawa Tengah saat ini berasal dari lima rumpun. Yaitu rumpun Gunung Slamet, Sindoro Sumbing, Gunung Kelir, Merapi Merbabu, dan Muria. Dari seluruhnya, jenis kopi arabica menguasai produksi di Jateng, dibanding robusta

"Kopi sedang booming dan ini adalah ekonomi kreatif yang bisa dimanfaatkan anak muda untuk membangun start up bisnisnya. Ini bagian dari apa yang dikatakan Bung Karno, berdikari dalam bidang ekonomi dan harus terus dikembangkan agara muncul citarasa baru kopi yang khas Jateng," katanya.

(rs/bay/fer/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia