Senin, 23 Jul 2018
radarsolo
icon featured
Nasional

Guru Ngaji Nyambi Kurir Narkoba, Sekali Antar Rp 1 Juta

Selasa, 10 Apr 2018 10:30 | editor : Fery Ardy Susanto

Agung Rukiyanto alias AGR (tengah) saat rilis kasus narkoba oleh BNNP Semarang, Senin (9/4).

Agung Rukiyanto alias AGR (tengah) saat rilis kasus narkoba oleh BNNP Semarang, Senin (9/4). (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Teka-teki siapa tokoh agama yang ditangkap Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah, terkait kasus narkotika di wilayah Sidoharjo, Sragen, Jumat lalu (6/4) akhirnya terungkap. Tersangka adalah Agung Rukiyanto alias AGR, 47, yang sehari-hari mengajar ngaji di salah satu pondok pesantren di wilayah Laweyan, Solo.

Warga yang tinggal di Kampung Tegalayu RT 01 RW 02, Kelurahan Bumi, Kecamatan Laweyan, Solo, ini seharusnya berangkat umrah kemarin (9/4). Namun, karena terjerat kasus tersebut terpaksa dia gagal berangkat ke Tanah Suci Makkah.

Satu tersangka lain yang ditangkap bersama Agung adalah Sriyono alias SYN, 53, warga Pringgading RT 04 RW 09 Kelurahan Stabelan, Kecamatan Banjarsari, Solo. Keduanya ditangkap sesaat usai mengambil paketan sabu di daerah pertigaan Pungkruk, Jalan Raya Sukowati KM 4 Desa Jetak, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen, Jumat (6/4) sekitar pukul 00.25 WIB.

Agung sendiri mengakui mengonsumsi sabu-sabu saat bertemu dengan teman lamanya pada awal 2018. Kemudian dia diajak pesta sabu di suatu tempat oleh teman lamanya tersebut, hingga akhirnya berkenalan dengan seseorang bernama Bejo.

“Ada teman lama yang datang mengajak reuni, terus memakai bareng (pesta sabu), bertiga sama Bejo. Akhirnya kenal (Bejo), sempat pesan barang (sabu) dua kali. Terus pesan yang ketiga kalinya ini disuruh ambil barang di Sragen. Bilangnya nanti kalau sudah sampai di Solo akan diambil seseorang,” katanya saat gelar perkara di Kantor BNNP Jateng, Senin (9/4).

Kepala BNNP Jateng Brigjen Pol Tri Agus Heru Prasetyo menjelaskan, pengungkapan ini setelah menindaklanjuti laporan dari masyarakat adanya sebuah mobil Toyota Avanza warna hitam bernopol AD 8935 IU membawa narkotika menuju arah Solo. Anggota Tim Berantas BNNP Jateng yang telah mengintai akhirnya berhasil menemukan mobil yang dimaksud kemudian berhasil menghentikan di pertigaan Pungkruk, Sidoharjo, Sragen.

“Saat digeledah ditemukan barang bukti narkoba jenis sabu. Terbungkus aluminium foil yang berisi dua paket, dengan berat 10 gram. Barang bukti ini disimpan tersangka di dalam mobil yang dikendarainya,” ungkap Agus di kantornua kemarin.

Kemudian keduanya dibawa ke Kantor BNNP Jateng untuk dimintai keterangan. Dari hasil pemeriksaan, sabu 10 gram tersebut diambil AGR atas perintah seseorang yang mengaku bernama Bejo, berdomisili di Kaliurang Jogjakarta. Nantinya, setelah sampai di Solo, paket sabu itu akan diambil lagi oleh seseorang, yang belum diketahui identitasnya.

“Untuk pekerjaan ini, AGR diberi upah Rp 1 juta. Sedangkan tersangka SYN sejak dari awal mengetahui bahwa AGR akan mengambil narkotika, dia berperan turut membantu mencarikan alamat transaksi tersebut,” katanya.

BACA: BNNP Jateng Tangkap Tokoh Agama Nyabu

Agus mengatakan, dari pengakuan AGR, dia mulai memaki sabu-sabu sejak 1998, dan sempat berhenti pada 2002. Namun aktif lagi memakai barang haram ini mulai Januari 2018. AGR juga mengaku setiap harinya mengajar ngaji di salah satu pondok pesantren di Solo.

“Tersangka ini setiap harinya mengajar ngaji di pondok. AGR juga rencananya hari ini 9 April (kemarin) berangkat umrah ke Tanah Suci. Tapi karena keburu tertangkap, dia gagal umrah karena harus menjalani proses hukum di BNNP Jateng,” bebernya.

BACA: Rumah Tersangka Kurir Sabu Sering Didatangi Orang Tak Dikenal

Agus menambahkan, kasus ini membuktikan bahwa narkotika telah merambah seluruh sendi kehidupan masyarakat. Bahkan belum lama ini, BNNP Jateng telah menangkap seorang mahasiswa semester akhir di perguruan tinggi negeri di Semarang, terkait kasus penyalahgunaan narkotika jenis pil ekstasi.

“Agar kasus seperti ini tidak semakin meluas, BNNP Jateng akan semakin merangkul kelompok-kelompok agama, termasuk MUI agar bisa membantu menyebarkan informasi mengenai bahaya narkotika,” imbuhnya.

Para tersangka saat ini masih ditahan di Rumah Tahanan BNNP Jateng untuk menjalani proses hukum selanjutnya. Akibat perbuatanya, tersangka dijerat dengan pasal 114 ayat 2, Jo Pasal 132 ayat 1, subsider Pasal 112 ayat 2, Jo Pasal 132 ayat 1, UU No 35 Tahun 2009 tentang narkotika. Ancaman hukuman minimal 5 tahun penjara dan maksimal pidana mati.

(rs/atn/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia