Minggu, 22 Jul 2018
radarsolo
icon featured
Nasional

Kejar Target, Tol Soker Buka Akhir April

Rabu, 11 Apr 2018 10:50 | editor : Fery Ardy Susanto

Atlet NPC Indonesia berlatih di Tol Solo-Kertosono yang akan dioperasikan segera.

Atlet NPC Indonesia berlatih di Tol Solo-Kertosono yang akan dioperasikan segera. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

SOLO – Pelaksana proyek terus bekerja keras merampungkan pembangunan tol Solo-Ngawi. Target akhir April harus sudah beroperasi untuk mendukung persiapan arus mudik Lebaran.

Direktur PT Jasa Marga Solo Ngawi (JSN) David Wijaya mengatakan bahwa hingga saat ini pihaknya tengah merampungkan proyek tersebut. Rencananya untuk tol Solo-Ngawi mendatang, telah dipersiapkan enam pintu untuk mendukung pengoperasian tol tersebut.

Di wilayah Solo sendiri ada dua pintu tol, yakni Klodran dan Gondangrejo. Sedangkan Karanganyar, ada satu pintu di Kebakkramat. Sementara Sragen akan disediakan dua pintu di Pungkruk dan Sambungmacan, dan Ngawi ada satu pintu yang telah beroperasi.

“Saat ini yang belum selesai hanya pintu di Sambungmacan. Sebab, pintu itu merupakan usulan tambahan yang saat ini masih dalam pematangan desain lokasi,” jelasnya dalam Forum Bisnis bersama JSN di Novotel kemarin (10/4).

Sedangkan untuk rest area, PT JSN akan menyediakan delapan rest area di sepanjang tol Solo-Ngawi. Untuk titiknya, rest area tipe A akan disediakan di Masaran, Sragen, tepatnya di kilometer 26. Nantinya pada rest area tipe A ini akan menampung 100 kendaraan. Selain itu juga disediakan fasilitas SPBU dan masjid pada dua sisi jalan.

Sedangkan untuk rest area tipe B akan disediakan di kilometer 45 Padaplang, dan kilometer 82 atau tepatnya di Ngawi. Pada rest area tipe B nanti akan dibangun lahan parkir untuk 25 kendaraan, musala, dan warung kecil.

Rencananya untuk pengoperasian pada akhir April ini. Pekan depan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR) dan Dirjen Perhubungan Darat akan melakukan uji layak fungsi.

 ”Sebenarnya masih butuh 1,5 bulan lagi untuk menyelesaikan enam titik overpass. Sebab, perlu adanya pembebasan lahan yang melibatkan instansi lainnya (BPN,” jelasnya.

Terkait dengan tarif, hingga saat ini pemerintah belum menentukan besarannya. Pasalnya, pemerintah masih mengkaji penurunan tarif pasca diresmikannya tol Ngawi-Wilangan.

”Kemungkinan dari lima golongan akan dipersempit menjadi tiga golongan tarif. Namun, untuk realisasinya kami menunggu dari pemerintah,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Surakarta Ahyani mengatakan bahwa dengan adanya tol Solo-Ngawi ini, satu-satunya potensi yang bisa dikembangkan melalui Kota Solo adalah budaya. Salah satunya yang bisa dibidik adalah Borobudur.

”Borobudur menjadi potensi paling besar untuk dijual. Dilihat dari jalurnya, dengan rute Solo, Selo, Borobudur akan menjadi alternatif yang mempunyai ikon untuk menggaet wisatawan datang ke Solo,” jelasnya.

Selain itu bidikan lain yang dilirik untuk pengembangan Kota Solo adalah promosi Sangiran. Bagaimanapun, Sangiran menjadi satu-satunya museum sejarah yang diakui oleh Unesco.

”Maka dari itu kami juga berencana untuk mengubah Perda RTRW (rencana tata ruang wilayah). Tujuannya agar pemerataan di kota Solo sendiri,” jelasnya.

Sebenarnya Kota Solo juga memerlukan adanya jalan lingkar. Dengan wacana dibangunnya jalan lingkar ini akan menambah ruang gerak transportasi karena kendaraan berat dilewatkan di jalan luar.

”Perlu agar ring road ini dikembangkan. dengan adanya jalan lingkar, bisa menjadi alternatif agar kendaraan berat tidak melewati jalan konvensional yang sudah ada,” tandasnya.

(rs/vit/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia