Jumat, 20 Jul 2018
radarsolo
icon featured
Features

Rajendra Elvaro, Crosser Cilik yang Tak Ciut Nyali Lawan Senior

Jumat, 13 Apr 2018 11:00 | editor : Fery Ardy Susanto

Rajendra Elvaro Athallah Wibisono, crosser cilik asa Solo.

Rajendra Elvaro Athallah Wibisono, crosser cilik asa Solo. (DOK. PRIBADI)

TUBUHNYA memang mungil. Tapi soal prestasi di arena balap motocross tidak diragukan lagi. Rajendra Elvaro Athallah Wibisono bahkan mengobrak-abrik race di Kejuaraan Nasional Motocross dan Grasstrack Championship 2018, belum lama ini.

Rajendra masih kelas 1A SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kota Barat. Di saat anak seusianya masih asyik bermain mobil-mobilan, Elvaro justru berani terjun di dunia motocross. Salah satu olahraga ekstrem yang antimainstream dikuasai anak usia tujuh tahun.

Baru-baru ini, bocah 7 tahun ini juara umum Kejuaraan Nasional Motocross dan Grasstrack Championship 2018 Round 3, Sabtu-Minggu (7-8/4) di Sirkuit Pacuan Kuda Pikatan, Blitar, Jatim. Elvaro juara 1 kelas SE 50 CC dan juara 1 di kelas Moto 2. Dia sukses mengasapi rival-rivalnya. Sebut saja Nelson Cairoli asal Jogjakarta.

“Sejak umur tiga tahun, Elvaro hobi nonton video motocross luar negeri lewat YouTube. Waktu itu dia minta sepeda. Saya belikan sepeda buat standing. Setelah umur lima tahun mulai minta motor. Saya belikan Yamaha VW 50 CC. Dua bulan sudah bisa menguasai. Setelah itu naik KTM 50 CC sampai sekarang,” beber sang ayah yang mantan pembalap road race, Hendra Wibisono kepada Jawa Pos Radar Solo.

Awalnya, Elvaro dipandu crosser asal Jogjakarta, Irwan Ardiansyah. Sekarang, dia dilatih crosser Denny Orlando yang kebetulan pamannya sendiri, saudara sang bunda, Dyta Chyntia.

“Melihat potensi Elvaro, saya nggak khawatir dia total di dunia motocross. Dia termasuk anak cerdas. Saat dijelaskan pelatih, dia gampang nyantol. Jadi saya percaya aja. Yang sering khawatir itu malah maminya,” kelakar Hendra.

Pertama ikut balapan, Elvaro terjun di Kejuaraan Nasional Seri 1 di Sirkuit Tambakrejo, Januari 2017. Hanya finis di posisi 15 dari 22 pebalap.

“Tidak ditarget juara. Nothing to lose saja. Buat pengalaman seru-seruan. Soalnya waktu itu dia belum waktunya ikut. Tapi karena kepengin ya coba ikut,” ungkap Hendra.

Selama 2017, Elvaro mengalami proses panjang yang mematangkan kemampuannya. Dia pernah di posisi tengah, bahkan paling belakang. Pernah juga belum bisa tergabung di rombongan depan karena umurnya yang masih terlalu kecil. Saat itu, ia masih termasuk pebalap terkecil dengan usia enam tahun.

“Sekarang beberapa kali ikut kejuaraan, dia sudah masuk tiga besar terus. Semakin bertambah usia, dia bisa mengendalikan mood-nya sendiri. Yang jelas kami nggak pernah kasih target. Tergantung Elvaro dan mood-nya aja,” kata Hendra.

Rencana terdekat, dia bakal mengikuti Kejuaraan Daerah Grasstrack di Salatiga, 21 April mendatang. Targetnya membawa gelar juara umum lagi.

“Pengennya jadi juara lagi. Bakal latihan lebih keras. Soalnya sirkuit di Jawa Tengah nggak sebagus di Jawa Timur. Jadi mungkin bakal menemui kesulitan,” ungkap bocah kelahiran Solo, 18 April 2011 ini.

Soal pembagian waktu antara sekolah dan latihan, sang bunda Dyta Chyntia tegas memprioritaskan akademik. Meskipun ia berharap Elvaro dapat menyeimbangkan keduanya. Namun Dyta tetap menanamkan pada anaknya bahwa pendidikan nomor satu.

“Kalau balap sama papinya, urusan belajar sama saya. Pulang sekolah, latihan di sirkuit sampai Maghrib. Sepulang latihan, belajar sampai jam setengah sepuluh malam. Baru setelah itu istirahat. Seperti itu rutinitasnya. Kayak nggak ada capeknya,” beber Dyta.

(rs/aya/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia