Minggu, 22 Jul 2018
radarsolo
icon featured
Klaten

Buat Program SIM Kolektif Khusus Pelajar

Jumat, 04 May 2018 10:20 | editor : Fery Ardy Susanto

Pembuatan SIM kolektif khusus pelajar di Mapolres Klaten, Kamis (3/5).

Pembuatan SIM kolektif khusus pelajar di Mapolres Klaten, Kamis (3/5). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

KLATEN – Satlantas Polres Klaten menyebut kalangan pelajar sering melanggar tata tertib berlalu lintas. Sebab mayoritas pelajar yang mengendarai sepeda motor ke sekolah belum memiliki surat izin mengemudi (SIM). Nah, menekan angka pelanggaran itu, diupayakan pembuatan SIM secara kolektif.

Sekitar 350 pelajar dari 15 SMA/SMK se-Klaten memanfaatkan program tersebut, Kamis (3/5). Mereka mendapatkan pelayanan khusus di Satlantas Polres Klaten. Bertempat di tenda halaman parkir Mapolres Klaten. Khusus SIM kolektif ini, pelajar dipisahkan dari layanan umum.

”Kegiatan ini sejatinya untuk keselamatan para pelajar dalam mengendarai kendaraan dengan memiliki SIM. Terutama bagi mereka yang duduk di kelas 12 dan sudah berumur 17 tahun diharuskan membuat SIM. Apalagi sebentar mereka akan kuliah dan bekerja sehingga perlu SIM saat mengendarai kendaraan untuk aktivitas mereka,” jelas Kanit Registrasi dan Identifikasi (Regident) Kendaraan Bermotor (Ranmor) Satlantas Polres Klaten, Iptu Rizky Widyo Pratomo.

Pembuatan SIM secara kolektif di kalangan pelajar juga untuk mengantisipasi segala kemungkinan setelah adanya pengumuman kelulusan. Mengingat di tahun sebelumnya perayaan kelulusan dilakukan dengan melakukan konvoi hingga berakhir rusuh. Rizky tidak mau terjadi lagi sehingga diantisipasi dengan pembuatan SIM kolektif di kalangan pelajar tersebut.

Proses pembuatan SIM di kalangan para pelajar tidak ada bedanya dengan layanan masyrakat umum lainnya. Cukup membawa fotokopi e-KTP langsung melakukan pendaftaran pembuatan SIM. Mereka juga nantinya melalui tahapan mulai dari foto, ujian teori dan praktik, hingga lulus mendapatkan SIM.

”Selama ini kita terus menghimbau kepada para pelajar untuk tidak membawa kendaraan apabila tidak memiliki SIM. Termasuk himbauan melalui para pihak sekolah dan orangtua masing-masing untuk tidak membawa motor. Tapi nyatanya di sekitar sekolah banyak ditemukan lahan parkir bagi pelajar,” jelasnya.

Meidy Nanditya, 18, siswa SMAN 1 Ceper mengaku setiap hari mengendarai sepeda motor ke sekolah. Dia terbantu adanya program ini.

”Sekarang berkendara ke mana-mana tidak risau lagi karena sudah punya SIM. Saya berharap program ini digelar rutin karena banyak manfaatnya bagi pelajar,” bebernya.

(rs/ren/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia