Sabtu, 21 Jul 2018
radarsolo
icon featured
Klaten

Konvoi Kelulusan, Puluhan Motor Dikandangkan

Sabtu, 05 May 2018 12:00 | editor : Fery Ardy Susanto

Puluhan motor peserta konvoi kelulusan diamankan di Mapolres Klaten, Jumat (4/5).

Puluhan motor peserta konvoi kelulusan diamankan di Mapolres Klaten, Jumat (4/5). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

KLATEN – Jajaran Polres Klaten melakukan penindakan terhadap pelajar yang merayakan kelulusan dengan konvoi di jalan raya, Kamis (3/5). Hasilnya, Satlantas Polres Klaten berhasil mengandangkan 92 sepeda motor miliki siswa peserta konvoi. Dari jumlah itu, 71 kendaraan sudah dilakukan penindakan berupa penilangan. Sementara sisanya masih dalam proses.

Kepala Urusan Pembinaan Operasi (KBO) Satlantas Polres Klaten, Iptu Sarwoko mewakili Kapolres, AKBP Juli Agung Pramono menjelaskan, langkah ini diambil untuk mengantisipasi menjaga kondusivitas. Penindakan melibatkan jajaran satlantas, sabhara, reskrim, intelejen, dan seluruh polsek. Diawali apel gelar pasukan, dilanjutkan patroli berdasarkan pemetaan.

”Kami menindak pelajar yang konvoi karena mengganggu ketertiban lalu lintas,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Solo, Jumat (4/5).

Sejatinya, sudah ada imbauan untuk tidak melakukan konvoi. Namun kenyataannya, masih saja ada yang melanggar imbauan tersebut. Selain mengandangkan 92 motor, 50 siswa yang terjaring razia langsung dilakukan pembinaan di Mapolres Klaten.

”Sebenarnya lebih dari 50 siswa. Sebagian mendapat pembinaan di masing-masing polsek. Konvoi dilakukan bergerombol di sejumlah wilayah. Mulai dari Kecamatan Polanharjo, Delanggu, Pedan, Cawas, hingga Prambanan,” terang Sarwoko.

Pada giat kali ini, tidak ditemukan siswa yang membawa senjata tajam (Sajam). Bagi siswa yang hendak mengambil kendaraan, wajib menjalani sidang terlebih dahulu. Termasuk melengkapi surat-surat kelengkapan kendaraan. Karena saat terjaring, banyak yang tidak membawa SIM dan STNK. Serta wajib mengganti kelengkapan motor sesuai standart pabrikan.

”Sementara ini seluruh kendaraan milik siswa kami tahan. Karena dalam 14 hari kedepan akan dilakukan sidang untuk menentukan pelanggaran yang harus dipertanggungjawabkan. Termasuk denda yang harus dibayarkan,” beber Sarwoko.

Doni Febrian, 17, siswa sekolah swasta Islam di Delanggu mengaku tidak ikut konvoi namun terjaring razia. Saat berkumpul bersama teman-temannya merayakan kelulusan.

”Saya tidak ikut coret-coret seragam karena masih kelas 11. Hanya ikut teman saja kumpul bareng,” kilahnya.

(rs/ren/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia