Jumat, 20 Jul 2018
radarsolo
icon featured
Features

Donald Santoso, Andalan Tim Basket NPC Indonesia Jebolan Phoenix Suns

Kamis, 21 Jun 2018 12:33 | editor : Fery Ardy Susanto

Sosok Donald Santoso, atlet tim basket kursi roda Indonesia.

Sosok Donald Santoso, atlet tim basket kursi roda Indonesia. (SEPTINA FADIA PUTRI/RADAR SOLO)

BARU tahun ini tim basket kursi roda Indonesia terbentuk. Namun, National paralympic Committee (NPC) Indonesia tak gentar tampil di ajang bergengsi sekelan Asian Para Games 2018 di Jakarta, 6-13 Oktober mendatang. Karena Indonesia memiliki Donald Santoso, jebolan Phoenix Suns Amerika.

Donald Putra Santoso sejatinya atlet basket normal. Tapi petaka datang di 2007. Saat sedang berlatih basket, lututnya mengalami cedera serius.

"Waktu itu saya masih SMA. dari lutut saya terdengar suara ‘pop!’. Ternyata saat itu lutut saya langsung putus,” kenangnya kepada Jawa Pos Radar Solo.

Cedera lutut Donald cukup serius. Ia harus menjalani enam kali operasi. Ironisnya lagi, ternyata ada infeksi pada tulang. Dalam operasinya, beberapa kali tulangnya harus dipotong.

"Saya masih bisa jalan, kalau ditanya sakit atau tidak, ya sakit. Tapi saya sudah tidak bisa lari dan tidak bisa mengangkat kaki. Sampai sekarang juga masih enggak normal. Masih constable dan yang jelas tidak bisa main basket normal,” beber pria 28 tahun ini.

Enam kali operasi dilakoni Donald selama lima tahun. Tapi ambisi Donald main basket tak pernah pudar. Beruntung ia juga dikelilingi teman-teman basketnya yang selalu memotivasi dan menguatkan.

"Kondisi saya saat itu sangat berat, terutama untuk mental state,” sambung ayah satu anak ini.

Donald lalu melanjutkan studi S1 di Burkeley University of California, Amerika Serikat. Di sana ada tim basket kursi roda. Sayang ambisinya untuk bergabung terganjal klasifikasi.

"Tak boleh asal gabung karena baru operasi ketiga. Harus memenuhi persyaratan disabilitas. Ada dokter yang memeriksa," bebernya.

Donald baru bisa mencicipi basket lagi setelah melanjutkan studi S2 di Arizona State University. Saat itu, ia sudah menjalani lima kali operasi. Akhirnya klasifikasi disabilitasny terpenuhi setelah menjalani operasi kelima.

"Awalnya hanya minta diizinkan ikut latihan. Sekadar refreshing. Setelah beberapa kali latihan, ternyata sudah boleh bergabung,” ujarnya.

Dua tahun gabung tim Arizona State University, mimpi Donald tampil di ajang pro kesmpaian. Setelah dipercaya jadi pemain Phoenix Suns. Selama dua tahun di Phoenix Suns, Donald memutuskan balik ke Tanah Air.

"Juni 2017 saya pindah ke Indonesia. Tujuan saya satu, ingin buat tim basket kuri roda. Untuk anak-anak usia 10-15 tahun,” ungkapnya sembari mengaku pad 2015 pernah membawa pelatih dari Amerika untuk coaching clinic di Indonesia.

Misi lainnya, Donald ingin membangun sebuah federasi basket kursi roda.

"Saya ingin orang-orang memangdang olahraga ini sebagai sebuah rasa 'kasihan'. Ini sebuah tantangan bagi kaum difabel. Semoga 2-4 tahun lagi olahraga ini bisa memasyarakat," bebernya.

(rs/aya/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia