Sabtu, 21 Jul 2018
radarsolo
icon featured
Wonogiri

Adum Ketupat, Bupati Jekek Naik Paralayang

Senin, 25 Jun 2018 14:48 | editor : Fery Ardy Susanto

Tradisi Adum Ketupat di Waduk Gajah Mungkur Wonogiri, Minggu (24/6).

Tradisi Adum Ketupat di Waduk Gajah Mungkur Wonogiri, Minggu (24/6). (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

WONOGIRI - Tradisi Adum Ketupat digelar di objek wisata Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri, Minggu (24/6). Ribuan warga terlihat mengikuti gelaran tersebut. Tak ketinggalan Bupati Wonogiri, Joko "Jekek" Sutopo yang beraksi terbang dengan paralayang.

Kepala UPT Waduk Gajah Mungkur, Pardiyanto mengatakan, kegiatan ini merupakan tradisi tahunan. Merupakan puncak ritual menyambut Syawal. Dengan berebut ketupat, masyarakat meyakini bakal mendatangkan keberkahan.

Dalam pesta ketupat tersebut, tidak ada prosesi khusus. Ribuan ketupat dikemas sedemikian rupa sehingga pengunjung bisa menikmati tanpa harus berebutan. Sedangkan gunungan ketupat, hanya berisi ketupat tiruan. Bukan nasi, melainkan kupon doorprise.

Bupati Wonogiri Joko "Jekek" Sutopo menaiki paralayang, dari atas Bukit Joglo, Minggu (24/6).

Bupati Wonogiri Joko "Jekek" Sutopo menaiki paralayang, dari atas Bukit Joglo, Minggu (24/6). (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

"Rebutan ketupatnya dibagi dua sesi. Anak-anak lebih dulu, lalu yang dewasa. Hal ini untuk mengurangi risiko anak-anak terinjak-injak,” ujar Pardiyanto kepada Jawa Pos Radar Solo.

Makna kupat sering diartikan ngaku lepat (mengaku salah). Melalui tradisi ini, dikandung maksud adanya pengakuan salah untuk kemudian dapat saling maaf-memaafkan. Hal ini identik dengan makna halal bihalal. Yakni untuk mengaku salah dan kemudian saling memaafkan demi dapat kembali fitri.

(rs/kwl/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia