Sabtu, 21 Jul 2018
radarsolo
icon featured
Klaten

Warung Apung Rowo Jombor Tinggal Kenangan

Senin, 25 Jun 2018 15:15 | editor : Fery Ardy Susanto

Wisatawan masih berkunjung di warung apung Rowo Jombor, Minggu (24/6).

Wisatawan masih berkunjung di warung apung Rowo Jombor, Minggu (24/6). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

KLATEN - Warung apung yang selama ini jadi ikon objek wisata Rowo Jombor di Desa Krakitan, Bayat, Klaten sebentar lagi tinggal kenangan. Sebanyak 32 warung yang ada di lokasi tersebut bakal segera dipindah ke daratan. Sebagai tindak lanjut rencana penataan Rowo Jombor oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah, serta pemerintah pusat.

Bupati Klaten, Sri Mulyani menjelaskan, pihaknya akan segera menyosialisasikan penataan warung apung, karamba, dan pemancingan usai Lebaran ini. Warung apung bakal dipindah ke daratan. Menempati lahan seluas 3.000 meter persegi milik pemprov.

”Meskipun harus dilakukan kajian terlebih dahulu,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Solo, Minggu (24/6).

Pemkab juga mendorong pemprov untuk segera melakukan review MoU pengelolaan Rowo Jombor. Termasuk penelusuran aset. Sehingga dalam penataan nanti, tidak ada permasalahan. Apalagi kewenangan Rowo Jombor sendiri juga berada di tangan pemerintah pusat melalui Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS).

”Jika nanti secara hukum pemkab boleh menganggarkan penataan Rowo Jombor dari APBD, maka akan kami lakukan. Bisa kami siapkan dalam APBD perubahan, khususnya untuk review kembali DED (detailed engineering design) yang telah dibuat sebelumnya. Sebab ongkosnya terlalu mahal, sekitar Rp 15 miliar untuk keseluruhan. Ya memang akan kami kaji ulang,” tandas Sri Mulyani.

Juli nanti, master plan penataan Rowo Jombor dapat diselesaikan. Di bulan yang sama, seluruh proses untuk mendukung langkah penataan juga mulai dilakukan. Demi menyulap Rowo Jombor menjadi objek wisata seperti Bedugul di Bali.

”Saya minta dalam pemindahan warung apung nanti tidak ada gejolak yang berarti. Potensi rawa ini cukup besar dan perlu dioptimalkan dalam pengelolaannya. Agar bisa mengangkat perekonomian warga sekitar rawa,” beber Sri Mulyani.

Camat Bayat, Edy Purnomo mengatakan, setelah warung apung pindah ke daratan, warga hanya diperkenan mengelola karamba.

”Selama ini wisatawan datang tujuan utamanya ke warung apung. Sementara ini yang masih bertahan ada delapan warung saja,” ujarnya.

(rs/ren/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia