RADARSOLO.COM - Masjid Al-Hidayah Kratonan, kini menjadi pusat kegiatan keagamaan di Kecamatan Serengan, Kota Solo.
Masjid ini memiliki sejarah panjang yang penuh perjuangan.
Masjid ini awalnya merupakan sebuah langgar kecil berukuran 4×6 meter yang berdiri di atas tanah pribadi milik keluarga Sahlan.
Pada 1976, keluarga Sahlan mewakafkan tanah tersebut untuk kepentingan masyarakat sekitar.
Seiring berjalannya waktu, langgar kecil ini mengalami renovasi dan akhirnya menjadi masjid dan diresmikan pada 1998.
Salah satu peninggalan berharga di masjid ini adalah mimbar kayu yang telah digunakan sejak peresmian masjid ini pada 1998, dan masih ada hingga sekarang.
Keberadaan Masjid Al-Hidayah Kratonan tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga memiliki dampak sosial yang besar.
Sebelum berdiri kokoh seperti sekarang, wilayah sekitar masjid, terutama di Jalan Pringgondani, dulunya dikenal sebagai daerah rawan karena maraknya praktik prostitusi dan kebiasaan masyarakat yang gemar mengonsumsi alkohol.
Meski demikian, uniknya, masyarakat saat itu dikenal tidak melakukan tindakan kriminal seperti mencuri.
Seiring waktu, dengan hadirnya masjid ini, perubahan sosial pun terjadi. Lingkungan yang sebelumnya kurang religius mulai mengalami pergeseran ke arah yang lebih agamis.
Hal ini berkat upaya para tokoh masyarakat dan pengurus masjid yang aktif mengajak warga sekitar untuk lebih mendekatkan diri kepada agama.
Sejak diresmikan sebagai masjid, Al-Hidayah Kratonan dikelola oleh beberapa takmir yang silih berganti.
Takmir pertama, H.M. Yusuf Hidayat, kemudian digantikan oleh H. Joko Santoso, S.Ag
Selanjutnya, kepemimpinan dipegang oleh Haji Muhammad Sam’an, yang merupakan putra dari pemilik asli tanah wakaf masjid ini.
Saat ini, struktur kepengurusan masjid dipimpin oleh Haji Muhammad Sam’an, yang bertanggung jawab mengelola masjid dan Harjendro sebagai sekretaris masjid.
Menurut Harjendro, keberadaan Masjid Al-Hidayah bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi sarana bagi masyarakat sekitar untuk mengadakan berbagai kegiatan sosial dan keagamaan.
"Yang menarik tentu sejarah perjuangan Bapak H. Sahlan yang mengubah lingkungan ini dari yang kurang agamis menjadi lebih religius. Selain itu, masjid ini juga terus berkembang untuk kepentingan masyarakat sekitar, tidak hanya untuk ibadah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan sosial dan pendidikan," ucap Harjendro kepada Jawa Pos Radar Solo.
Setiap bulan suci Ramadan, Masjid Al-Hidayah Kratonan mengadakan berbagai kegiatan keagamaan yang terbuka untuk seluruh masyarakat.
Salah satu program unggulannya adalah Simaan Alquran, yang diadakan setiap hari selama Ramadan.
Jadwal Simaan di Masjid Al-Hidayah Kratonan adalah sesi sore mulai pukul 16.00-17.00 WIB dan berlanjut sesi malam mulai pukul 20.20-21.00 WIB.
Kegiatannya simaan Alquran dibagi dalam beberapa kelompok. Mulai dari kelompok dewasa mengaji secara individu, kelompok remaja dan anak-anak dibimbing oleh pengajar khusus, hingga penyetoran hafalan, saat anak-anak maju satu per satu untuk menyetor hafalan Iqra’ atau Alquran.
Beberapa anak-anak tengah menggelar simaan di Masjid Al-Hidayah Kratonan.
Setiap Ramadan masjid ini mengadakan simaan setiap hari. Bedanya, sesi sore ada nonton film Islami sebelum berbuka, sedangkan sesi malam lebih fokus pada hafalan.
"Kegiatan ini gratis, dan semua anak-anak di sekitar masjid bisa ikut mengaji. Kami juga menyediakan fasilitas dan pengajar dari luar Kratonan," Haidar Abdullah, salah seorang pengajar simaan di masjid ini.
Haidar Abdullah mengungkapkan, kegiatan simaan ini mendapat respons antusias tinggi dari anak-anak, terutama mereka yang sebelumnya belum lancar membaca Iqra atau Alquran.
Selain simaan, ada pula berbagai kegiatan Ramadan lainnya, seperti buka puasa bersama, salat tarawih berjamaah, kultum setelah Salat Subuh, dan kegiatan sosial keagamaan lainnya.
Untuk mendukung seluruh kegiatan masjid, dana operasional Masjid Al-Hidayah Kratonan berasal dari infak jamaah dan donatur.
Partisipasi masyarakat setempat dalam mendukung keberlangsungan masjid ini sangat besar, terutama dalam pengembangan fasilitas dan kegiatan keagamaan.(mg7/mg8/nik)
Penulis : Siti Fatimah
Fotografer : Nazla Khairunnisa
Editor : Niko auglandy