Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Perbedaan Awal Ramadhan 2026, Tokoh Muhammadiyah dan NU Solo Ajak Umat Saling Menghormati

Alfida Nurcholisah • Selasa, 17 Februari 2026 | 18:37 WIB
Tim MAN 1 Solo melakukan pengamatan hilal 1 Ramadan, Selasa (17/2/2026). (M Ihsan/Radar Solo)
Tim MAN 1 Solo melakukan pengamatan hilal 1 Ramadan, Selasa (17/2/2026). (M Ihsan/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Perbedaan potensi penetapan awal Ramadhan kembali mewarnai kalender ibadah umat Islam tahun ini. Menyikapi hal tersebut, para tokoh organisasi kemasyarakatan di Kota Surakarta mengajak masyarakat untuk tetap bijak, saling menghormati, dan tidak terprovokasi demi menjaga kekhusyukan ibadah di Kota Bengawan.

Wakil Ketua 1 Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Solo Joko Riyanto menyampaikan, warga Muhammadiyah telah menerima maklumat resmi terkait penetapan 1 Ramadan yang jatuh pada Rabu (18/2). Keputusan ini diambil berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal yang mengandalkan perhitungan astronomi secara ilmiah dan presisi.

"Muhammadiyah mempercayai metode hisab sebagai ilmu pasti, sama halnya dengan penentuan waktu salat atau prediksi gerhana. Namun, kami sangat menghormati jika ada perbedaan secara nasional. Masyarakat sudah cerdas, tidak boleh ada pemaksaan atau saling menyalahkan. Mari sambut Ramadan dengan ikhlas dan gembira," ujar Joko, Selasa kemarin (17/2).

Di sisi lain, Ketua PCNU Kota Solo Mashudi menjelaskan, perbedaan ini lumrah terjadi karena adanya perbedaan kriteria dalam memandang posisi bulan. Jika Muhammadiyah menggunakan hisab, maka pemerintah dan Nahdlatul Ulama (NU) konsisten menggunakan metode rukyatul hilal atau pengamatan langsung di lapangan dengan kriteria tinggi hilal minimal 3 derajat.

"Perbedaan metode ini adalah hal biasa dan masing-masing memiliki dasar hukum yang kuat. Muhammadiyah punya dasar, NU pun kuat. Instruksi organisasi sifatnya internal, sehingga masyarakat dipersilakan mengikuti keyakinan masing-masing," jelas Mashudi.

Mashudi juga menambahkan bahwa bagi warga yang merasa ragu, pilihan paling aman adalah mengikuti keputusan resmi pemerintah melalui hasil Sidang Isbat. Ia menegaskan bahwa keragaman dalam mengawali puasa justru harus menjadi momentum untuk saling mendukung dan mempererat tali persaudaraan antarumat beriman. (alf/bun)

Editor : Kabun Triyatno
#umat islam #muhammadiyah #NAHDLATUL ULAMA (NU) #ramadahan #rukyatul hilal #kalender