RADARSOLO.COM -
Ramadan di Indonesia memberi kesan tersendiri bagi Miss Nura Sabilla, mahasiswi asal Thailand yang kini menempuh pendidikan S2 Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).
Maklum, sudah lima tahun ia menjalani Ramadan di Indonesia. Kesan mendalam dirasakan Nura saat buka puasa bersama (bukber) di masjid.
Suatu hal yang tidak ditemuinya di negeri asal Thailand. Sebab bukber di masjid di Negeri Gajah Putih hanya khusus untuk jamaah laki-laki.
“Di Indonesia, terutama di Solo, perempuan boleh ikut buka puasa bersama di masjid. Kalau sedang tidak punya makanan, saya sering ke masjid makan gratis. Jadi bisa hemat pengeluaran,” ujarnya sembari tertawa, Jumat (20/2).
Hampir setiap hari masjid di samping asrama Nura menyediakan hidangan berbuka. Sesekali, ia bukber di Masjid Raya Sheikh Zayed Solo.
“Imam di Masjid Zayed banyak yang dari luar negeri, bacaan Alquran-nya memukau,” pujinya.
Di Thailand, umat muslim dianggap minoritas. Di sana mayoritas penduduknya beragama Budha. Karena itu, suasana Ramadan di Indonesia diklaim Sabilla sangat meriah.
“Salat Tarawih juga beda. Di Thailand dua rakaat plus satu salam,” ujarnya.
Satu lagi yang bikin Nura kesengsem, yakni saat berburu takjil di sekitar kampusnya.
“Di depan kampus banyak yang jualan, sampai jalanan macet,” bebernya.
Sementara itu, selama tinggal di Indonesia, Nura tak pernah melupakan budaya negeri asalnya. Saat bulan suci Ramadan tiba, ia menyempatkan membuat hidangan manis khas Thailand.
Namanya bua loi. Sejenis kolak dengan kuah santan berisi bulatan tepung warna-warni. Kadang ditambahkan kelapa muda dan nangka agar lebih nikmat.
“Harapan saya, tahun ini Idul Fitri bisa bersamaan. Tidak ada perbedaan. Karena jujur saya bingung harus ikut siapa?” bebernya. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto