RADARSOLO.COM – Masjid Agung Keraton Surakarta menyiapkan skema pelayanan ibadah yang inklusif selama Ramadan tahun ini.
Takmir memastikan seluruh agenda berjalan dengan prinsip merangkul perbedaan. Stabilitas dan keteduhan menjadi fokus utama dalam penyelenggaraan ibadah.
Perbedaan jumlah rakaat tarawih maupun potensi perbedaan awal puasa disebut bukan persoalan yang perlu dipertentangkan.
Masjid justru mengambil posisi sebagai ruang pemersatu. Seluruh jamaah diberikan akses yang sama dalam beribadah.
Ketua Takmir, Muhammad Muhtarom, menegaskan pihaknya memfasilitasi dua model tarawih yang berkembang di tengah masyarakat.
Delapan rakaat dan 24 rakaat sama-sama diakomodasi tanpa sekat. Kebijakan itu diambil untuk menjaga kondusivitas.
“Jadi kita memfasilitasi sistem terawih yang ada, kita mengadopsi dua jamaah yang berbeda yakni 8 rakaat dan 24 rakaat juga kita fasilitasi. Dari Masjid Agung Surakarta juga berharap tidak ada permasalahan dalam melaksanakan puasa tahun ini walaupun waktu mulainya berbeda karena sudut pandangnya masing-masing, jadi semuanya benar,” ujarnya.
Ia menilai Ramadan harus menjadi momentum refleksi bersama. Di tengah berbagai dinamika sosial, masyarakat diajak memperkuat ketenangan batin. Puasa disebut sebagai ruang pembenahan diri.
“Kita prihatin di tahun ini dengan adanya banyak bencana alam dan juga bencana pikiran, kita doakan mudah-mudahan Ramadan ini menjadi momen untuk menenangkan diri, kita kembali ke diri Allah, kembali menjadi manusia,” katanya.
Makna kembali menjadi manusia, lanjutnya, tercermin dalam cara berpikir dan bersikap.
Pola pikir yang jernih akan melahirkan tindakan yang proporsional. Nilai kebersamaan harus lebih dominan dibanding ego sektoral.
“Kalau kita kembali menjadi manusia, cara berpikir kita akan logis, realistis, kemudian saling menghargai, saling menghormati, saling membantu, saling mengawal bersama-sama dan saling menguatkan. Itu yang kita harapkan. Puasa kali ini kita manfaatkan momentum bagaimana upaya-upaya menjadi manusia kembali,” tegasnya.
Dari sisi pelayanan, Masjid Agung membuka program buka puasa bersama setiap hari. Takmir menyiapkan sedikitnya 400 porsi takjil bagi jamaah. Jumlah tersebut disesuaikan dengan dukungan yang masuk.
“Masjid Agung sendiri membuka pelayanan buka puasa dengan takjil yang minimalis minimal 400 porsi, lalu untuk sahur harapannya bisa memberikan 1000 porsi,” jelasnya.
Selain berbuka, layanan sahur juga menjadi perhatian. Targetnya mencapai 1.000 porsi untuk jamaah dan masyarakat sekitar. Program ini diharapkan membantu mereka yang membutuhkan.
Agenda ibadah turut diperkuat dengan program tarawih khataman Alquran. Selama Ramadan, pembacaan ditargetkan menuntaskan 30 juz. Skema ini dirancang agar jamaah lebih intens berinteraksi dengan Alquran.
“Kedua program Ramadhan di Masjid Agung ada kegiatan tarawih dengan menghatamkan Alquran 30 juz,” ungkapnya.
Kegiatan tadarus digelar dalam dua kategori. Jamaah umum dapat mengikuti tadarus harian, sementara santri menjalankan hafalan khusus 30 juz. Pola ini dibuat untuk menjangkau seluruh segmen jamaah.
“Lalu dilanjutkan tadarus dengan terdapat 2 macam, satu tadarus yang bisa diikuti umum dan kedua hafalan 30 juz yang dilakukan oleh santri,” ujarnya.
Memasuki sepuluh malam terakhir, malam selikuran kembali digelar sebagai tradisi spiritual. Takmir juga memfasilitasi pembayaran zakat fitrah sebesar Rp 45 ribu dan fidyah Rp 40 ribu per hari mengacu pada ketentuan Badan Amil Zakat Nasional. Seluruh pengelolaan dilakukan secara terukur.
“Berikutnya ada kegiatan malam selikuran, pemberian zakat fitrah dengan uang sekitar Rp 45.000, kalau untuk yang ingin membayar fidya per harinya adalah Rp 40.000 setiap harinya mengacu pada aturan Baznas,” jelasnya.
Agenda terakhir di penghujung Ramadan, Masjid Agung akan menggelar malam takbiran bersama warga kampung Kauman.
Untuk salat Idul Fitri akan mengikuti pengumuman dari pemerintah pusat. Lewat program-program yang sudah disampaikan tersebut, program kampung Ramadhan Masjid Agung yang sempat terhelat di tahun kemarin ditiadakan untuk tahun ini.
Menurut Ketua Takmir, peniadaan kampung Ramadan karena adanya efisiensi anggaran. Masalah ini juga salah satu bentuk kepengurusan sedang mengalami kendala finansial dalam mengelola Masjid.
Harapannya di bulan Ramadan ini, jamaah bisa membantu Masjid Agung melalui donasi atau infaq supaya pelayanan bisa berjalan lebih maksimal.
"Untuk bulan Ramadan tahun ini, agenda kampung Ramadhan yang sempat terselenggara di tahun sebelumnya ditiadakan karena adanya efisiensi anggaran. Karena hal tersebut, harapannya jamaah bisa membantu Masjid Agung melalui donasi atau infaq supaya pelayanan bisa berjalan lebih maksimal,” pungkasnya. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy