RADARSOLO.COM - Suasana malam Ramadan kian khusyuk dengan hadirnya jamaah yang menunaikan ibadah salat Tarawih di masjid.
Menurut pandangan sejumlah ulama, Tarawih merupakan salat sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) pada malam Ramadan, setelah Isya hingga fajar.
Secara bahasa, salat Tarawih berarti istirahat. Nama ini merujuk pada kebiasaan para sahabat Rasulullah SAW, yang beristirahat sejenak di antara setiap empat rakaat karena panjangnya bacaan ayat.
Dalam sejarahnya, Rasulullah hanya tiga malam melaksanakan Tarawih berjemaah di masjid. Di malam keempat, beliau tidak keluar, karena khawatir salat tersebut diwajibkan atas umatnya.
“Dalam hadis riwayat Muslim, disebutkan tidak ada yang menghalangiku keluar menemui kalian. Kecuali kekhawatiranku jika salat ini diwajibkan atas kalian,” jelas Guru Syariah dan Bahasa Arab Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam Amien Ashiddiqi, Rabu (25/2).
Amien menambahkan, Tarawih bukan sekadar ibadah rutin selepas berbuka.
“Tarawih adalah ruang rehat rohaniah. Di sini kita menenangkan hati setelah seharian berjuang menahan lapar dan dahaga,” imbuhnya.
Tradisi salat Tarawih berjamaah, lanjut Amien, diteguhkan pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Sejak saat itu, Tarawih menjadi syiar Ramadan yang menghidupkan malam-malam kaum muslimin.
Menurut Amien, daya tarik utama Tarawih terletak pada janji ampunan Allah SWT. Seperti sabda Rasulullah SAW:
“Barangsiapa melakukan salat malam di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
“Pada akhirnya, Tarawih adalah potret nyata dari jeda ruhaniah yang dibutuhkan manusia di zaman modern. Berhenti sejenak dari hiruk-pikuk pencapaian duniawi, maka kita menata ulang niat dan arah tujuan hidup kembali kepada-Nya,” beber Amien.
Di Solo, pelaksanaan Tarawih cukup beragam. Ada yang 11 rakaat, ada pula yang sampai 23 rakaat. Namun, esensinya tetap sama, yakni mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
“Selain memberi manfaat spiritual, gerakan salat membantu tubuh kembali aktif setelah berbuka. Sementara lantunan ayat suci menjadi terapi ketenangan jiwa,” ujar Amien.
Hanya saja, menunaikan salat Tarawih tantangan terbesarnya yakni menjaga konsistensi. Sering kali niatan kita meredup di pertengahan bulan.
Padahal, Tarawih sejatinya bukan beban. Melainkan momen hijrah batin untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, demi menata ulang niat dan arah hidup.
“Kita tidak pernah tahu, apakah Ramadan tahun depan masih diberi kesempatan atau tidak. Jangan biarkan Tarawih berlalu tanpa makna,” pesan Amien.
Amien menambahkan lagi, Tarawih bukan hanya ritual malam. Melainkan jeda penuh makna untuk menambal retakan jiwa.
“Mengubah lelah menjadi lillah, dan menjemput ampunan di bulan yang mulia,” bebernya. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto