Senin, 18 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Boyolali

Malam Tahun Baru, Pendakian ke Gunung Merapi Dibatasi

30 Desember 2017, 16: 17: 43 WIB | editor : Bayu Wicaksono

Sejumlah pendaki yang sedang beristirahat di  kawasan Pasar Bubrah.

Sejumlah pendaki yang sedang beristirahat di  kawasan Pasar Bubrah. (TRI WIDODO/RADAR BOYOLALI)

Share this      

BOYOLALI – Seperti biasa, saat malam pergantian tahun pendakian di gunung Merapi bakal dibatasi. Yaitu khusus malam Tahun Baru 2018 pendaki maksimal hanya 2.500 orang. “Idealnya cuma 1.500 orang, itu tidak terlalu padat,” papar Kepala Resort Selo Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM), Suwiknya.

Dijelaskan Suwiknya, pembatasan untuk mengantisipasi membludaknya pendaki yang hendak merayakan pergantian tahun. Karena jalur pendakian Merapi terbilang pendek, sempit, dan diapit jurang. Jika terlalu banyak pendaki bakal menanggung beban. Apalagi hujan yang masih sering mengguyur, sehingga jalur pendakian dikhawatirkan tergerus dan licin. Jalur juga rawan longsor karena tingginya intensitas hujan di kawasan Merapi. “Curah hujan masih cukup tinggi, membuat jalur pendakian rawan longsor,” tegasnya.

Menurut Suwiknya, aturan pendakian untuk agenda tahun baru nanti masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Yaitu harus membawa peralatan yang memadai, kondisi fisik yang prima, serta larangan untuk naik sampai puncak Merapi. “Pendakian juga hanya dibolehkan sampai kawasan Pasar Bubrah saja,” terangnya.

Guna memudahkan pemantauan, petugas bakal membuat pos-pos penjagaan di sepanjang jalur pendakian. Penjagaan juga melibatkan petugas dari berbagai elemen. Seperti relawan, tim SAR, kepolisian serta jajaran terkait lainnya. “Jika jumlah pendaki Merapi melebihi batas yang telah ditentukan, maka pendaki akan diarahkan ke Gunung Merbabu yang jarak pos pendakiannya tak jauh dari Gunung Merapi,” jelasnya.

Ditemui terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Boyolali, Bambang Sinungharjo menambahkan, para pendaki juga tak diizinkan membawa senjata tajam. Hal itu dimaksudkan untuk menghindari hal- hal yang tak diinginkan.

Selain itu Bambang juga menerapkan larangan untuk melakukan pesta kembang api dan membuat api unggun di puncak salah satu gunung teraktif di dunia itu. Tujuannya, mengantisipasi terjadinya bahaya kebakaran. “Kami berharap para pendaki mematuhi aturan dan imbauan ini,” ungkap Bambang.

(rs/wid/bay/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia