Minggu, 18 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Lifestyle

Mencari Sensasi dari Rasa Sakit

Senin, 08 Jan 2018 10:20 | editor : Perdana

DODO YES-YOU

DODO YES-YOU

SOLO - Tidak puas hanya permukaan kulit dirajah, penggemar tato menyasar bagian tubuh paling sensitif. Tepatnya pada sklera atau lapisan luar mata yang berwarna putih.

ADA pula yang diebut brutal tato. Jenis ini marak di Eropa. “Pembuatannya (tato, Red) berorientasi pada rasa sakit yang memang menurut kepercayaan mereka rasa sakit itu bisa dinikmati,” kata tato artis kawakan Solo, Dodo Yes-You kemarin (7/1).

Pria pemilik nama asli Prasetya Enggar Perdana ini sudah 11 tahun menekuni bidang tato. Mencari pengalaman ke negara-negara asing sudah dilakoninya. Tapi, dia belum sekalipun menato sklera. Perlu pengkajian lebih detail untuk tato yang sangat berisiko tersebut. Banyak yang belum mengerti soal efek sampingnya.

“Yang saya tahu, teknisnya (tato bola mata, Red) lebih cenderung ke injeksi. Meliputi menyuntikkan tinta warna langsung di bola mata. Nantinya, tinta akan menyebar di lapisan paling atas mata (conjuntiva) dan mewarnai bagian putih mata. Hasilnya permanen dan tidak bisa diubah,” beber Dodo.

Menurutnya, tato bola mata diprakarsai oleh tato artis dunia Luna Cobra yang berbasis di Melbourne dan San Fransisco. Tidak semua tato artis cakap dalam menato bola mata. “Dari artikel yang saya baca, asosiasi di Amerika mengkritisi tato mata karena resiko infeksi hingga kebutaan. Penyebabnya bisa peralatan yang kurang tepat, tinta yang mungkin mengalami pembekuan, dan juga proses belum sesuai standar operasional.

Ditambahkan Dodo, dari besarnya risiko tersebut, dirinya belum berminat melayani tato bola mata. “Saya sekali bertemua tato artis di Melbourne. Namanya Deadcherub. Saat itu, cuma dia yang saya lihat matanya di injeksi,” papar Dodo.

Bagaimana peminat tato bola mata di Indonesia? Dodo menuturkan masih sangat jarang. “Tato dalah usaha kreatif yang harus diarahkan kepada jalur lebih positif mengingat citranya di masa lalu. Maka, jika ada hal baru dalam seni ini, saya juga mendukung. Hanya saja memang harus diperkuat soal standar dan panduan teknisnya,” paparnya.

Saat ini, Dodo lebih berkonsentrasi menjalin kerja sama untuk mendirikan studio tato bersama rekannya di Bali dan Australia. "Domisili sekarang di Legian, Kuta, Bali. Tapi beberapa bulan sekali pulang ke Solo untuk mengerjakan pesanan tato,” pangkas dia. (ves/wa)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia