alexametrics
Sabtu, 30 May 2020
radarsolo
Home > Solo
icon featured
Solo

Warga Desa Siap Transaksi Nontunai

20 Januari 2018, 13: 33: 30 WIB | editor : Bayu Wicaksono

Dosen manajemen dari Fakultas Ekonomi UNS, Irwan Trinugroho

Dosen manajemen dari Fakultas Ekonomi UNS, Irwan Trinugroho

Share this      

SOLO - Seorang dosen manajemen dari Fakultas Ekonomi UNS, Irwan Trinugroho dan tim berhasil merebut penghargaan bergengsi di bidang finansial dan perbankan dari HSBC Indonesia Research Award (HIRA) 2017. Adapun penelitian yang diangkat berjudul How Ready Are People for Cashless Society (Kesiapan Menjadi Masyarakat NonTunai). Tujuan penelitian ini untuk mengukur perspesi kesiapan masyarakat menjadi pengguna nontunai. Ditemukan fakta-fakta menarik yang mungkin selama ini tidak diduga. Salah satunya, domisili atau lokasi tempat tingga nyatanya tidak mempengaruhi kesiapan seseorang untuk menjadi masyarakat nontunai.

“Saya sangat bersyukur bisa membawa pulang penghargaan ini. Sungguh sebuah kebanggaan dapat menjadi salah satu penelitian terbaik. Semoga, nantinya bisa menjadi referensi untuk membangun Indonesia yang lebih baik,’’ ujarnya. 

Diketahui, HIRA merupakan salah satu inisiatif dari program kerja sama HSBC Indonesia dan Putera Sampoerna Foundation (PSF) melalui Sampoerna University yang ditujukan untuk mendorong kemajuan edukasi keuangan dan perbankan baik secara nasional maupun lokal. HIRA sendiri diselenggarakan guna memotivasi dosen dan peneliti agar mampu menjadi agen perubahan terkait edukasi keuangan, terutama lewat penelitian yang solutif dalam menjawab permasalahan daerah masing-masing. Pada tahun 2017, HIRA mengangkat tema Mendorong Keuangan dan Perbankan untuk Pembangunan.

Melalui rilis yang diterima Jawa Pos Radar Solo, Irwan menggunakan metode survei kepada 993 responden yang berdomisili di empat kabupaten di DI Jogjakarta. Yaitu Bantul, Gunung Kidul, Kulonprogo, Sleman dan Kota Jogjakarta. Adapun profil respondennya berusia lebih dari 17 tahun, bekerja, dan memiliki telepon genggam.

“Dari hasil penelitian, dua pertiga responden menyatakan siap menerima penggunaan teknologi keuangan untuk transaksi nontunai. Namun tidak ditemukan data yang mendukung persepsi bahwa domisili atau letak goegrafis berpengaruh pada kesiapan responden. Responden yang berdomisili di kota ataupun pedesaan sama-sama memiliki kesiapan untuk menuju masyarakat non-tunai,” tegas Irwan.

Ditambahkannya, total 50 persen dari responden juga setuju bahwa model transaksi nontunai dengan menggunakan fasilitas uang elektronik adalah penting. Kebanyakan berpendapat bahwa transaksi elektronik tidak hanya menawarkan kemudahan dan fleksibilitas. Namun juga memungkinkan transaksi dilakukan dengan lebih aman dan terekam lebih baik. Penelitian ini juga membuktikan bahwa kesiapan masyarakat dipengaruhi signifikan oleh ketersediaan infrastruktur.

“Semakin baik infrastruktur yang tersedia di daerahnya, misalnya koneksi internet dan jaringan listrik, maka semakin tinggi pula kesiapan masyarakat untuk beralih ke transaksi non-tunai,” tuturnya.

Pihaknya kini juga tengah mengembangan sebuah roadmap penelitian terkait teknologi keuangan. Penelitian ini akan lebih fokus untuk melihat pengembangan produk keuangan digital sederhana yang sesuai karakter dan kebutuhan masyarakat. Sehingga dapat digunakan dengan mudah dan nyaman.

“Layanan keuangan digital itu masa depan. Saat ini berbagai program keuangan inklusif berbasis digital telah banyak digalakkan. Seperti Layanan Keuangan Digital (LKD) dari BI dan Layanan Keuangan tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif (Laku Pandai) oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jutaan masyarakat di ribuan desa dan dusun seluruh Indonesia dapat diberdayakan melalui adopsi teknologi,” ucap Irwan. 

(rs/gis/bay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia