Kamis, 18 Jul 2019
radarsolo
icon featured
Sragen

Gojek Sragen Demo, Doa Bersama Sembari Nyalakan Lilin

24 Maret 2018, 18: 40: 03 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

Demo Gojek Sragen di Kampung Cantel, Kelurahan Sragen Wetan, Jumat malam (23/4).

Demo Gojek Sragen di Kampung Cantel, Kelurahan Sragen Wetan, Jumat malam (23/4). (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)

Share this      

SRAGEN – Sejumlah driver Gojek di Sragen menggelar aksi damai dan doa bersama di Kampung Cantel, Kelurahan Sragen Wetan, Jumat malam (23/3). Mereka menolak perubahan tarif baru yang diberlakukan PT Go-Jek Indonesia. Tuntutannya agar tarif dikembalikan jadi Rp 8 ribu.

Cahya Fajar Kristian, 40, Ketua Paguyuban Go-jek Sragen menyampaikan, sejak penghapusan subsidi pada 21 Maret lalu, pendapatan para driver ojek online menurun drastis hingga 50 persen.

"Kami sebagai mitra mengeluhkan adanya pemotongan atau penurunan harga. Ini sangat berpengaruh sekali terhadap pendapatan kita sebagai mitra Gojek, kebutuhan keluarga sangat menurun karena penurunan tarif ini,” keluhnya kepada Jawa Pos Radar Solo.

Fajar berharap pihak manajemen bisa mengembalikan subsidi sebesar Rp 4.000 atau membebankannya ke konsumen. Apalagi selama ini juga tidak ada keberatan dari konsumen yang memakai jasa ojek online

Dia menyampaikan lagi, sebelum ada pencabutan subsidi, sekali order untuk jarak dekat, mereka bisa mengantongi Rp 8.000 dengan rincian Rp 4.000 dari konsumen dan Rp 4.000 dari subsidi. Tergantung jarak jauh dekatnya. Untuk tarif setiap 1 kilometer sebesar Rp 1.700. Namun setelah subsidi dicabut, praktis mereka hanya dapat Rp 4.000 saja dari konsumen.

Selain itu mereka harus mengejar target untuk bisa tutup poin. Dia menjelaskan setidaknya untuk tutup poin harus bisa mencapai 20 kali order untuk Go-ride. Sedangkan untuk Go-food hanya 10 order

“Kalau biasanya pendapatan kalau sampai tutup poin itu bisa Rp 150.000. SEkarang hanya Rp 80.000 kalau tutup poin. Kalau nggak tutup poin ya lebih rendah,” keluh Fajar.

Fajar mengatakan, jumlah pengemudi Go-jek sendiri di Sragen sekitar 250 orang yang tergabung dalam paguyuban. Menurutnya, masih banyak Go-jek yang belum masuk paguyuban, sehingga diperkirakan jumlah total yang ada di wilayah Sragen lebih dari 300 orang.

Dalam aksi damai Jumat malam tersebut, mereka menyalakan lilin dan menggelar doa bersama yang dipimpin oleh sesepuh Go-jek.

Sementara, protes pengemudi ojek online terkait penurunan tarif dianggap belum berdampak besar di Sragen. Selain itu, sesuai aturan ojek juga dianggap ilegal oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Sragen.

Kepala Dishub Sragen Muhari saat ditanya terkait ojek online menyampaikan, angkutan transportasi roda dua itu ilegal.

”Ojek itu ilegal sehingga kami tidak mau masuk ke dalamnya,” ujarnya.

Pihaknya menyampaikan, sesuai Peraturan Kementerian Perhubungan (Permenhub) nomor 108 tahun 2017 tidak termasuk kendaraan umum. Namun dia menyampaikan di lapangan, sejauh ini ojek online tidak ada masalah dan terjadi gesekan.

”Sejauh ini tidak ada masalah, namun jika terjadi masalah kami siap memfasilitasi,” terangnya.

Dia mengatakan banyak ojek online yang mangkal di beberapa titik. Hal tersebut berdasarkan laporan angkutan konvensional. Hal ini bisa memantik masalah dengan kendaraan angkutan yang lain.

Muhari menegaskan sudah meminta anggota untuk mengawasi. Hal ini sebagai langkah antisipasi jika sampai terjadi gesekan.

"Kami dengan polres sudah memperingatkan sesuai ketentuan. Jika memang ojek online tentunya tidak mangkal di tempat-tempat umum,” ujarnya.

(rs/din/fer/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia