Senin, 27 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Features

Luwesnya Penari Pudak Petak Dance Studio Sajikan Tarian Bali

26 Maret 2018, 11: 00: 59 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

Penari Pudak Petak Dance Studio tampail di Police Award Polda Jateng di Semarang, Kami malam (22/3).

Penari Pudak Petak Dance Studio tampail di Police Award Polda Jateng di Semarang, Kami malam (22/3). (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

KAMIS malam (22/3), penampilan para penari Pudak Petak Dance Studio memukau Kapolri dan jajarannya ketika tampil di Police Award Polda Jateng. Para penari yang semuanya perempuan jadi pusat perhatian lantaran fasih membawakan repertoar Tari Bali. Padahal, mereka semua bukan asli Pulau Dewata.

Dilihat dari gerakannya, mata penonton dihadapkan pada realitas bahwa penari tersebut sudah sangat mahir dan cukup lama dalam menekuni Tari Bali. Ternyata, semua itu dipatahkan dengan fakta bahwa mayoritas penari adalah orang Jawa.

Satu-satunya gadis asli Pulau Dewata di sana, yakni Kadek Shanti Gitaswari Prabhawita, 24, yang juga penggagas terbentuknya komunitas tersebut.

“Kebetulan hanya saya yang asli Bali, kalau yang lain dari beberapa daerah lain yang mayoritas semuanya orang Jawa,” jelas gadis yang akrab disapa Gita itu kepada Jawa Pos Radar Solo, Minggu (25/3).

Gita berkisah, awalnya komunitas terbentuk secara kebetulan. Inisiatif itu muncul saat dirinya mulai merasa kesepian dan prihatin dengan minimnya tarian asal daerahnya dibawakan di Kota Bengawan. Hal itulah yang mendasarinya untuk membentuk grup tari yang bernafaskan tarian tradisi khas Pulau Dewata tersebut.

“Saya ini mahasiswa perantauan dari Denpasar. Saya masuk Jurusan Tari di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta sejak 2012. Nah kala itu saya satu-satunya mahasiswa asli Bali. Saya pun cukup kesulitan menemukan tempat tradisi yang ada tradisi Balinya. Khususnya tarian yang masih dijaga dan ditampilkan. Saya pikir kok tidak bisa seperti mahasiswa seni lain yang masih menjaga tradisi asalnya dalam komunitas kedaerahan masing-masing,” jelas dia.

Singkat cerita, medio 2016, Gita mulai mengumpulkan beberapa kenalan sesama mahasiswa, khususnya yang pernah terlibat dalam satu produksi dengan dirinya. Gayung bersambut, akhirnya muncul gagasan membentuk sebuah komunitas tari yang fokus menggarap Tarian Bali.

“Dua tahun lalu, saya mengajak empat teman saya untuk latihan bareng dengan keperluan pentas. Karena formasi penari masih kurang akhirnya kami ajak tiga teman lainnya. Setelah terkumpul delapan penari putri, kami mulai berlatih bersama untuk pentas di 26 Malam SMKI (SMK N 8) Surakarta. Nah di sela sesi latihan itu ada pembicaraan kenapa ini tak di buat komunitas saja sekalian. Akhirnya Pudak Petak Dance Studio terbentuk pada September 2016,” beber Gita.

Sama seperti namanya, Pudak Petak dalam bahasa Bali diartikan sebagai bunga yang harum. Mereka berharap komunitas tari tersebut bisa makin dikenal luas oleh masyarakat dari berbagai penjuru Indonesia.

Kendalanya, karena mayoritas orang Jawa yang basik seninya adalah tari Jawa, teman-teman ini sedikit kesulitan di masalah tempo. Gita menilai, Tari Jawa itu gerakannya seirama dan stabil dengan lantunan musik pengiringnya, jadi bisa dihitung dengan tempo untuk setiap gerakannya. Tapi hal ini tidak ditemukan di tarian Bali, di mana temponya bisa berubah-ubah sesuai alunan musik yang dimainkan.

“Bisa dikatakan qiu-qiu (petanda) gerakan itu ada dimusiknya. Jadi saya mulai dengan membiasakan teman-teman dengan alunan musik Bali. Setelah rasanya didapat, langsung masuk pada materi gerak keseluruhan,” jelas dia.

Dua tahun berselang, Pudak Petak dance Studio makin sering tampil dalam berbagai kesempatan. Anggotanya pun terus bertambah, dari awalnya delapan orang kini menjadi 20 orang. Ke depan, Gita berharap komunitas ini bisa memiliki studio tari sendiri, agar latihannya tidak berpindah-pindah.

“Kami ini komunitas, bukan sanggar. Jadi kami terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar,” tutup Gita.

(rs/ves/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia