Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Pondasi Miring, Kreteg Abang segera Dibangun Juni

06 April 2018, 14: 59: 40 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

Papan peringatan larangan melintas di Kretek Abang, Bibis, Gilingan, Banjarsari, Kamis (5/4).

Papan peringatan larangan melintas di Kretek Abang, Bibis, Gilingan, Banjarsari, Kamis (5/4). (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Pemkot Surakarta bergerak cepat memperbaiki kerusakan Kreteg Abang di Bibis, Kelurahan Gilingan, Banjarsari. Pembangunan akan dimulai Juni mendatang dengan desain lebih lebar.

“Sekarang kita sedang menyusun DED (detail engineering design), Mei nanti lelang fisik dilakukan, Juni pembangunan dimulai. Sesuai dengan rekomendasi dishub (dinas perhubungan) jembatan baru akan diperlebar dari 8 meter menjadi 9 meter,” terang Kasi Jalan dan Jembatan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPU PR), Joko Supriyanto kepada Jawa Pos Radar Solo, Kamis (5/4).

Pelebaran jembatan guna memperluas akses kendaraan. Selain itu, diharapkan berdampak positif pada perkembangan sektor ekonomi di Solo sisi utara. Secara teknis, pelebaran jembatan bukanlah urusan sulit. Mengingat Jembatan Abang akan dibangun secara total, bukan hanya merenovasi jembatan yang ada.

“Kalau konsultan kemarin memperkirakan biaya yang dibutuhkan sekitar Rp 19 miliar,” terangnya.

Karena anggaran yang begitu besar, DPUPR tidak bisa menyelesaikan jembatan tersebut dalam satu waktu anggaran. Pekerjaan dilaksanakan dua tahap. Tahap pertama menggunakan APBD Kota Solo 2018 Rp 10 miliar. Sisanya dimasukkan dalam APBD Kota Solo 2019.

“Tahun ini diperkirakan menyelesaikan konstruksi bawah, misal abutment. Kemudian 2019 kita pasang girder,” kata Joko.

Jika rencana itu terwujud, maka lebar Kreteg Abang sekitar 8 meter serta trotoar di masing-masing sisi 0,5 meter. Sebagai gambaran, Joko mencontohkan Jembatan Ngemplak, Banjarsari. Desain seperti itu mendapat tanggapan positif dari Dinas Perhubungan (Dishub) Surakarta.

“Memang idealnya akses kendaraan di satu jalur itu 3,5 meter. Kalau dua jalur berarti tujuh meter,” ujar Kabid Lalu Lintas Dishub Surakarta Ari Wibowo.

Setelah jalan utama, ada bahu jalan sekitar setengah meter. Bahu jalan berfungsi memisahkan antara pengendara bermotor dengan pejalan kaki. Kemudian pejalan kaki diberikan trotoar sesuai kebutuhan.

“Kalau bicara ideal, lebarnya bisa 10 meter,” ujarnya.

(rs/irw/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia