Senin, 19 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Features

Duta Wisata Solo yang Hobi Olahraga dan Traveling

Jumat, 13 Apr 2018 13:15 | editor : Fery Ardy Susanto

Candra Saputra, Sales Marketing Manager Grand HAP Hotel Solo.

Candra Saputra, Sales Marketing Manager Grand HAP Hotel Solo. (DOK.PRIBADI)

CANDRA Saputra, Sales Marketing Manager Grand HAP Hotel ternyata punya hobi yang menyenangkan sekaligus menyehatkan. Yakni jalan-jalan alias traveling dan olahraga.

Postur tubuh yang ideal ditunjang para wajah ganteng mengantar Candra Saputra sebagai Duta Wisata Solo 2003 silam. Ini semua tak lepas dari hobinya yang sering olahraga. Serta berkelana ke berbagai penjuru daerah di Jawa Tengah. Mengunjungi berbagai objek wisata menarik untuk dikenalkan ke publik.

”Tak harus mahal, olahraga cukup jogging saja. Kalau traveling, belum sempat ke luar Jawa sih. Masih di sekitaran Jawa Tengah,” kata Candra kepada Jawa Pos Radar Solo saat dijumpai di Grand HAP Hotel Solo, baru-baru ini.

Bagi Candra, dunia marketing dinilai cukup dinamis dan penuh tantangan, khususnya di dunia perhotelan. Di 2008, Candra mengawali karier sebagai Sales Marketing Executive di sebuah hotel kenamaan di Kota Bengawan. Selama dua tahun pertama, pria kelahiran Solo, 18 Agustus 1985 ini menimba banyak pengalaman.

Rasa ingin tahu yang begitu besar dalam bidang marketing dan bisnis perhotelan membuatnya ingin berkelana ke berbagai properti hotel.

”Awalnya memang di Kota Solo. Karena penasaran dan ingin menjajal tantangan baru, lalu merantau ke beberapa kota di luar Solo. Masih di marketing perhotelan sih,” bebernya.

Dari sinilah, Candra menemukan banyak relasi dan link pertemanan. Selain tentunya pengalaman yang menempanya jadi seorang marketing andal. Jenjang kariernya yang terbilang cukup bangus hingga akhirnya dipercaya Grand HAP Hotel Solo sebagai Sales Marketing Manager.

”Itulah gift  yang saya terima selama menjadi Sales Marketing di beberapa hotel,” ujarnya.

Terkait dunia perhotelan, di mata Candra pangsa pasarnya masih sama. Namun, siklusnya terus berubah tiap tahun.  Ambil contoh di era 1990-2000, okupansi didominasi hotel bintang 4. Nah, agar tidak jauh tertinggal, hotel bintang 3 harus bisa mengikuti pertumbuhannya. Apalagi sejak 2010 sampai sekarang, bisnis perhotelan mulai menjamur. Inilah tantangan yang harus dihadapi Candra untuk mencapai market hotel yang sepadan.

”Pasar hotel mengalami penurunan di segmen government.  Tapi online travel menjadi tren. Namun Solo sendiri tren online travel menduduki peringkat 20 persen regional. Sedangkan goverment 40 persen. Sisanya corporate dan travel agent,” tandasnya.

Situasi politik juga memicu pasar pemerintahan menentukan turun naiknya okupansi hotel.

”Hotel yang menjamur menuntut kami para fighter marketing untuk memutar otak. Bagaimana agar okupansi hotel masing-masing  bisa bersaing,” urai Candra.

Candra juga punya strategi dan trik khusus agar okupansi hotel tetap terjaga. Bahkan naik.

”Selain pemasaran melalui digital online marketing, kami juga memberikan apresiasi kepada loyal customer untuk menjaga hubungan yang baik,” tandasnya.

(rs/gis/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia