Senin, 20 Aug 2018
radarsolo
icon featured
Ekonomi & Bisnis

Berkraf Ingin Remajakan Gedung Bioskop

Sabtu, 14 Apr 2018 14:30 | editor : Fery Ardy Susanto

Tim Berkraf saat berkunjung ke Kota Solo, baru-baru ini.

Tim Berkraf saat berkunjung ke Kota Solo, baru-baru ini. (NOVITA RACHMAWATI/RADAR SOLO)

SOLO – Pemerintah melalui Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) berniat merevitalisasi gedung bioskop dan gedung pertunjukan. Sebab di Indonesia, baru ada 1.100 layar bioskop yang tersedia. Itu pun sebagian besar terpusat di pulau Jawa.

Deputi Infrastruktur Bekraf, Hari Santoso Sungkari menjelaskan, pihaknya terus mengupayakan penambahan infrastruktur di bidang ekonomi kreatif. Salah satunya yang disasar penambahan layar bioskop di Indonesia.

”Padahal jika merujuk negara lain, di Korea jumlah layar bioskop mencapai 5.000. Sedangkan di Arab Saudi yang negaranya baru memperbolehkan keberadaan layar bioskop, langsung membangun 2.500 layar,” terang Hari kepada Jawa Pos Radar Solo, Kamis (13/4).

Bekraf berencana membantu pemilik gedung bioskop untuk merenovasi. Terutama gedung-gedung yang mangkrak. Tak hanya itu, juga gedung pertunjukan yang biasanya menyajikan pertunjukan seni dan budaya.

”Kesenian dan film merupakan salah satu industri ekonomi kreatif yang berpotensi dikembangkan oleh anak bangsa,” sambung Hari.

Bekraf juga tidak menutup mata untuk membantu bidang lainnya. Saat ini sudah banyak yang dinaungi Bekraf. Sekitar 48 lokasi mengajukan untuk bantuan renovasi. Bantuan diberikan bukan hanya melalui pemerintah kota maupun daerah. Namun juga diberikan melalui bisnis, komunitas, hingga akademisi.

”Tapi perlu ditekankan, kami menyetujui proposal pengajuan yang sifatnya renovasi. Jadi gedungnya ada dulu, baru diperbaiki. Bukan konsep untuk pembuatan gedung bioskop atau pertunjukan baru. Nantinya kami memberikan penilaian dulu mana yang layak dibantu atau tidak,” jelasnya.

Beberapa lokasi yang jadi sasaran, yakni Banjirmili di Sleman, Jogjakarta. Serta di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.

”Di Aceh kami juga sudah memiliki gedung bioskop,” tandas Hari.

Deputi Fasilitas HKI dan Regulasi Bekraf, Ari Juliano Gema mengaku saat ini masih minim industri kreatif yang mendaftarkan hak ciptanya. Bagi pelaku, sertifikasi pun penting agar kedepannya mereka lebih diakui di luar negeri. Salah satunya yang akan disasar Bekraf, yakni sertifikasi bagi musisi, DJ, dan pekerja industri film.

”Kalau sebelumnya yang sudah memberlakukan sertifikasi yakni barista, batik, animasi, dan fotografi. Sertifikasi ini penting. Sebagai banteng terhadap tenaga kerja luar. Lagi pula di luar negeri sudah diberlakukan aturan jika pekerja belum bersertifikasi, maka hanya akan dibayar 60 persen saja,” tandasnya.

(rs/vit/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia