Jumat, 16 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Solo

Bonek yang Tewas Dimassa di Solo Hari Ini Ultah, Minta Kado Kaos Bonek

Senin, 16 Apr 2018 13:00 | editor : Fery Ardy Susanto

Jenazah Bonek yang tewas di Solo dibawa pulang pihak keluarga.

Jenazah Bonek yang tewas di Solo dibawa pulang pihak keluarga. (ANTONIUS CHRISTIAN/RADAR SOLO)

SOLO - Maksud hati mendukung klub bola kesayangannya, Persebaya Surabaya bermain di Bantul kontra kPS Tira. Namun siapa sangka, justru menjadi dukungan terakhir bagi Mico Pratama. Ya, Mico diketahui jadi korban pengroyokan sekelompok orang di Solo, Sabtu dini hari (14/4).

Suasana duka terlihat di depan Ruang Jenazah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Moewardi, Sabtu malam (14/4). Puluhan orang berkumpul yang merupakan keluarga Mico Pratama, 17, suporter Bonek yang meninggal pagi harinya. Terlihat beberapa orang menangis di depan ruangan saat menunggu jenazah diangkat.

Di antara para orang yang menunggu, yakni Sukemi, 45, tak lain ayah Mico. Dia tidak menyangka anaknya meregang nyawa usai mendukung Persebaya Surabaya. Sebelum berangkat, Sukemi mengatakan, ibunda Mico sebenarnya sudah melarang.

“Karena masih sekolah, terus ibunya khawatir. Tapi dia bilang ini yang terakhir mendukung Persebaya. Karena kasihan, saya sama istri akhirnya izinkan. Ternyata maksudnya yang terakhir itu seperti ini (meninggal),” ujar warga Jl. Brigjend Katamso IV No. 233 RT 30  RW 06 Kelurahan Kedung Rejo, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, Jatim ini.

Sukemi mengatakan, anaknya memang masih duduk di bangku Kelas XI SMK Dharma Siswa Berbek dan sedang menjalani magang sekolah. Mico berangkat mendukung Green Force -julukan Persebaya-, Kamis malam (12/4).

“Pulang magang jam 9 malam karena masuk sore. Setelah mandi dan makan dia pamitan berangkat bersama dua temannya,” terangnya.

Karena telah melarang Micko agar tidak berangkat menonton laga Persebaya, lanjut Sukemi, ia tidak memberikan uang saku kepada anaknya.

“Tapi dia  bilang sudah punya uang. Setelah itu berjabat tangan dengan saya dan istri lalu berangkat,” ujarnya sambil menahan sedih.

Sebelum meninggalkan halaman rumah, Sukemi berpesan kepada Mico untuk terus memberi kabar ketika sampai tujuan maupun mau pulang. Benar saja, Mico selalu mengabari lewat pesan singkat Whatsapp (WA) yang dikirim kepada ibunya.

“Terakhir kali waktu mau pulang WA ibunya. Dia pamit mau numpak, maksudnya apa? Soalnya di WA lagi tidak bales, terus di telepon sudah tidak diangkat,” paparnya.

Kemudian sekitar pukul 05.00, Sukemi ditelepon teman anaknya bahwa Mico masuk rumah sakit. Spontan dia kaget, kenapa anaknya sampai masuk rumah sakit.

“Saya langsung telepon adik saya yang rumahnya di Sukoharjo untuk mengecek. Terus saya langsung berangkat ke Solo. Di tengah jalan sekitar pukul 08.30, saya ditelepon adik saya kalau Mico sudah meninggal,” tuturnya.

Di mata Keluarga, Mico dikenal sosok pendiam dan jarang keluar rumah kalau tidak ada urusan yang terlalu penting. Momen paling membuatnya sedih, Senin ini (16/4) Mico bakal merayakan ulang tahunnya ke-17.

“Dia tidak minta macam-macam. Pernah bilang hadiahnya minta kaos Bonek,” ujarnya.

Jenazah anaknya akan dimakamkan di dekat rumah. Disinggung soal kejadian yang menimpa buah hatinya, Sukemi mengaku sudah ikhlas. Namun kasus ini serahkan kepada polisi.

“Saya yakin polisi pasti bisa menyelesaikan,” ujarnya.

Janazah Mico sendiri terlihat dimasukkan ke dalam peti berbalut kain warna putih. Kapolresta Surakarta, Kombes Pol Ribut Hari Wibowo dan Wakapolresta Surakarta, AKBP Andy Rifai terlihat turut mengangkut peti dari dalam ruangan ke mobil jenazah. Iringan salawat terdengar mengiringi pengangkatan jenazah dan dibawa dengan mobil ambulans milik RSUD Dr. Moewardi. Dikawal Patwal Satlantas Polresta Surakarta.

“Saya mewakili keluarga besar Polresta Surakarta mengucapkan turut berduka cita. Kami akan mengusut kasus ini sampai tuntas,” tegas Kapolresta.

(rs/atn/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia