Jumat, 16 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Ekonomi & Bisnis

Kereta Bandara Berpotensi Moving Passenger dari Jogja

Senin, 16 Apr 2018 13:15 | editor : Fery Ardy Susanto

Proyek pembangunan kereta bandara di Bandara Internasional Adi Soemarmo Solo.

Proyek pembangunan kereta bandara di Bandara Internasional Adi Soemarmo Solo. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

SOLO – Proyek kereta bandara di Bandara Internasional Adi Soemarmo menelan anggaran Rp 72 miliar. Selain terkoneksi ke Stasiun Solo Balapan, juga menyambung ke Bandara Adi Sucipto Jogja. Untuk mengurai kepadatan di bandara tersebut. Diperkirakan moving passenger dari Jogja ke Solo sekitar 15 persen.

Direktur Jenderal (Dirjen) Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan, Agus Santoso menjelaskan, berdasarkan riset, kereta bandara akan mengurai kepadatan di Bandara Adi Sucipto. Sehingga mereka akan beralih ke Bandara Adi Soemarmo Solo.

”Bahkan ketika nanti ada atraktif lebih, moving passenger bisa dinaikkan. Sehingga sangat tepat ketika dua bandara ini disebut sebagai couple airport. Sebab ada kereta bandara yang menghubungkan dua bandara ini dengan kereta shuttle,” terang Agus kepada Jawa Pos Radar Solo saat sidak di proyek bandara, Sabtu malam (14/4).

Agus juga memprediksi pertumbuhan ekonomi dikawasan Bandara Internasional Adi Soemarmo bakal pesat. Selain kereta bandara yang terintegrasi, juga berdekatan dengan jalur tol Trans Jawa yang saat ini tengah dirampungkan proses pembangunannya.

”Kawasan yang dulunya bernama Panasan ini bisa disebut kawasan aerometropolis. Sebab semua fasilitas sangat mendukung untuk perkembangan kawasan ini. Apalagi keberadaan bandara sangat dekat dengan pintu tol, hanya sekitar 800 meter saja,” bebernya.

Agus menegaskan, pengembangan bandara berdampak pada pertumbuhan wilayah dan laju ekonomi masyarakat. Namun, kinerja sebuah bandara sangat didukung dengan pertumbuhan sektor ekonomi wilayah. Khususnya sektor industri, pariwisata, dan aksesibilitas.

”Dengan adanya bandara yang terkoneksi dengan jalan tol nanti, pertumbuhan airport tidak hanya dari industri dan pariwisata. Signifikansinya akan lebih terlihat saat bandara punya networking yang strategis,” tegas Agus.

Project Manager Pembangunan Stasiun Bandara dari PT PP, Dono Prasojo menyebut, proyek ini diperkirakan selesai lebih awal dari jadwal. Dari targetnya Desember, kemungkinan Juli mendatang sudah selesai. Hanya saja, penyelesaian masih sebatas proyek bangunan stasiun bandara. Sedangkan untuk jalur rel kereta api menuju ke stasiun Balapan dikerjakan Balai Teknik Perkeretaapian.

”Proyek masuk tahapan konstruksi jalur rel kereta api. Sedangkan pembangunan gedung stasiun sudah sampai lantai dua dan sebagian kecil lantai tiga. Peron nantinya berada di lantai tiga. Nantinya stasiun bandara ini juga akan terkoneksi dengan terminal bandara yang saat ini sedang dikembangkan PT Angkasa Pura,” ucapnya.

Manager Teknik PT AP I Bandara Adi Soemarmo, Bambang Eko mengaku proyek ini dikebut untuk mengatasi pertumbuhan penumpang bandara yang sudah menyentuh 2,8 juta hingga 3 juta orang per tahun. Padahal lima tahun lalu, jumlah penumpang di Bandara Adi Soemarmo hanya 1,5 juta orang saja per tahun.

”Sehingga jika dirata-rata, pertumbuhan di Bandara Adi Soemarmo mencapai 15 persen per tahun. Jumlah ini lebih besar dibandingkan nasional untuk transportasi udara yang hanya 11 persen per tahun. Sedangkan untuk kawasan Asia Pasifik, pertumbuhannya hanya 9 persen per tahun,” bebernya.

(rs/vit/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia