alexametrics
Kamis, 15 Apr 2021
radarsolo
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Mobil Ini Ternyata hanya Pakai Baterai Vapor

01 Mei 2018, 14: 40: 59 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

Mobil listrik Evo 2 rancangan mahasiswa Fakultas Teknik UMS yang akan berlomba di Jepang.

Mobil listrik Evo 2 rancangan mahasiswa Fakultas Teknik UMS yang akan berlomba di Jepang. (SEPTINA FADIA PUTRI/RADAR SOLO)

Share this      

SUKOHARJO – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) me-launching mobil listrik EVO 2 di Gedung Siti Walidah kemarin (30/4). Mobil hemat energi ini akan berangkat perdana berlaga di kontes World Econo Move di Akita, Jepang 2-8 Mei mendatang.

Mobil karya mahasiswa Fakultas Teknik UMS ini diklaim mampu melaju dengan kecepatan 53 kilometer per jam dengan kehematan energi sebesar 0,03 ampere. Sedangkan jarak tempuh mencapai 1 km.

“Kami masih mengejar lagi. Targetnya, kehematan energi bisa seminimal mungkin, yakni 0,01 ampere. Jadi kecepatannya kami tambah, konsumsi energi kami kurangi. Kami juga tonjolkan sistem manajemen pengemudi. Karena itu berpengaruh terhadap kehematan,” ujar Ketua Tim Penelitian Mobil Listrik, Meda Aji Saputro kepada Jawa Pos Radar Solo, Senin (30/4).

Baca juga: RS Indriati Kenalkan Metode Terkini Terapi Bedah Kanker Payudara

Mahasiswa Teknik Mesin ini menjelaskan, mobil listrik hemat energi buatannya dan tim dilengkapi baterai yang dirangkai seri paralel. Baterai tersebut dialirkan ke controller pengubahannya menjadi gerakan mobil. Baterai yang digunakan biasa untuk vapor atau rokok elektrik.

“Mekanikal mobil terdiri dari cases dan body. Untuk cases kami memakai alumunium dengan sistem las sebagai penyambungan. Sedangkan bodi, kami pakai polycarbonate, fiber, dan composit dari karton bekas. Karena tema mobil kami adalah hemat energi dan ramah lingkungan,” urai mahasiswa semester delapan ini.

Untuk biaya perakitan, satu unit mobil listrik hemat energi butuh Rp 75 juta. Biaya tersebut sudah termasuk try and error selama proses penyempurnaan prototipe mobil. Anggaran puluhan juta tersebut di-cover penuh menggunakan dana riset Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UMS.

Ditambahkan Meda, pembuatan mobil sudah dimulai sejak Mei hingga November 2017 dengan improvisasi dilakukan sebanyak tiga kali.

“Penelitian ini kami dikontrak selama tiga tahun oleh LPPM UMS. Ada road map-nya, pertama pembuatan prototype, kedua pembuatan mobil urban, terkahir pembuatan city car,” sambungnya.

Dalam kompetisi ini, Meda CS memasang target tinggi. Untuk keberangkatan perdananya di ajang internasional, mereka ingin membawa pulang gelar juara. Ditambah lagi, perwakilan Indonesia hanya dari UMS.

Wakil Rektor III UMS Taufiq berharap mahasiswanya dapat membawa pulang prestasi membanggakan.

“Kalau pun tidak juara, bisa menjadi pengalaman pertama dan motivasi bagi mahasiswa lainnya. Ini menjadi kali pertama kami launching ke luar negeri,” urainya.

(rs/aya/fer/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news