Selasa, 10 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Wonogiri

Campursari 100 Jam Nonstop, Omzet PKL Naik 300 Persen

01 Mei 2018, 16: 45: 23 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

PKL yang berjualan di kawasan Alun-Alun Giri Krida Bakti Wonogiori.

PKL yang berjualan di kawasan Alun-Alun Giri Krida Bakti Wonogiori. (IWAN DWI WAHYU/RADAR SOLO)

Share this      

WONOGIRI - Upaya pemecahan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) 100 Jam Campursari Nonstop, Sabtu-Rabu (28/4-2/5) memberikan dampak positif bagi ekonomi kerakyatan. Khususnya bagi pedagang kaki lima (PKL) di Alun-Alun Giri Krida Bakti Wonogiri. Omzet yang mereka dapatkan naik hingga 300 persen.

Sedikitnya 1.500 seniman terlibat dalam even budaya ini. Mereka berasal dari 40-an grup campursari dari Wonogiri dan sekitarnya. Sebut saja Sukoharjo bahkan Gunung Kidul. Hingga Selasa (1/5) siang, sudah 20-an grup campursari yang telah pentas selama 60-an jam. 

Perhelatan yang digelar siang dan malam ini tak ayal membuat warga Wonogiri berbondong-bondong menyaksikan even budaya tersebut. Layaknya pepatah ada gula ada semut, pedagang pun berjubel menjemput peruntungan.

"Biasanya hanya muter-muter di kampung. Sejak Sabtu lalu jualan di sini saja sudah habis," kata Sumiati, 41 penjual sate ayam Madura keliling kepada Jawa Pos Radar Solo.

Bahkan, khusus hari ini, Sumiati mengaku sudah meminta kiriman sate ayam dari rumah. Sebab 200 tusuk sate yang dibawanya sejak pagi ludes diborong pembeli.

"Baru saja minta tambahan 100 tusuk," kata warga yang tinggal di Kerdu Kepik ini dengan logat Madura. 

Ketua Paguyuban PKL Alun-Alun Giri Krida Bakti, Supriono menjelaskan, anggota tetap semua berjualan. Jumlahnya justru bertambah dengan hadirnya pada pedagang musiman.

"Anggota saat ini sampai awal 2018 sebanyak 124. Saat ada campursari ini, banyak pedagang musiman juga datang. Sekitar 15 pedagang yang izin dengan peguyuban," bebernya.

Menurut Supriono, event pecah rekor MURI 100 Jam Campursari Nonstop ini sangat bermanfaatkan bagi rakyat kecil, khususnya para PKL.

"Malam pertama hingga malam kedua rata-rata semua dagangan habis," papar Supriono. 

Menurut Supriono, dirinya biasanya mendapatkan keuntungan Rp 100 ribuan di hari-hari biasa. Jika malam hari libur atau Minggu, rata-rata Rp 200 ribu. 

"Nah saat campursari ini bisa sampai Rp 300 ribu. Naik 3 kali lipat. Teman-teman yang lain juga pasti sama," ujarnya. 

Supriono berharap pemerintah lebih sering menggelar acara yang dapat menghadirkan banyak pengunjung. Supaya dapat meningkatkan ekonomi kerakyatan, seperti PKL. (kwl/aw)

(rs/kwl/fer/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia