Jumat, 21 Sep 2018
radarsolo
icon featured
Features

Sosok Rahman Ali Si Pembuat Boneka Muppets

Selasa, 15 May 2018 11:35 | editor : Fery Ardy Susanto

Rahman Ali memamerkan boneka muppets hasil karyanya.

Rahman Ali memamerkan boneka muppets hasil karyanya. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

BERAWAL sebagai pengepul kain, Rahman Ali, 41, memutuskan banting setir. Menekuni bisnis pembuatan alat peraga edukatif berupa boneka muppets. Dia melirik model boneka tangan yang masih jarang ditemukan.

Desa Jetis Wetan, Kecamatan Pedan, Klaten dikenal sebagai sentral pembuatan aneka macam alat peraga edukatif. Mulai dari produksi pasak warna, balok, hingga jungkat-jungkit. Ratusan kepala keluarga (KK) di dusun itu sangat menggantungkan hidupnya pada kerajinan ini. Termasuk Rahman Ali.

bedanya, Rahman justru membuat boneka tangan yang masih jarang dilirik perajin lainnya. Peluang inilah yang lantas ditangkap untuk merebut pasar di Klaten dan sekitarnya.

Memasuki rumah Rahman, yang terlihat hanya tumpukan kain saja yang memenuhi seluruh ruang tengahnya. Terdapat pula satu mesin jahit yang menjadi senjata andalannya dalam memproduksi berbagai karakter boneka tangannya. Tetapi siapa sangka keterampilannya dalam menjahit boneka didapatkan secara otodidak, karena sebelumnya hanya seorang pengepul kain saja.

“Memang sejak 2000 saya hanya seorang pengepul kain dari satu perusahaan garmen ke perusahaan lainnya. Waktu itu sisa kain yang saya dapatkan itu dijual kembali dengan sistem kiloaan,” jelas Rahman.

Setelah delapan tahun menjadi pengepul kain, akhirnya dia memilih beralih membuat kerajinan yang menjadi pemandangan sehari-hari di sekitar rumahnya. Tepat pada 2008, Rahman akhirnya beralih profesi sebagai perajin boneka muppets. Hal ini dia pilih, mengingat di desanya belum ada yang memproduksi sehingga membuat pasar tersendiri.

Berbeda relasinya ketika menjadi pengepul, Rahman tidak menemukan kesulitan dalam mendapatkan bahan utamannya berupa kain jenis bulu. Setiap harinya ia bersama karyawannya berjumlah 12 orang mampu memproduksi 120 boneka. Mulai dari karakter boneka tangan berbentuk buah, hewan hingga anggota keluarga yang terdiri dari ibu, ayah, kakek, nenek dan anak.

“Saya melihat para perajin di desa saya lebih banyak menggunakan material kayu. Lantas saya coba yang lain dengan memanfaatkan kain bulu. Saya buat boneka tangan ini lalu dicoba dilempar ke pasaran. Hasilnya memang permintaannya banyak,” jelasnya.

Sebagai alat peraga edukatif yang banyak digunakan oleh anak-anak usia dini, Rahman menjamin keamanannya. Mengingat, material yang digunakan bukanlah kayu melainkan kain sehingga memiliki nilai tambah tersendiri. Hal ini membuat permintaan boneka tangan dari luar Klaten juga terus meningkat seperti Surabaya, Jakarta hingga Bali.

Harga yang dibanderol Rahman dalam menawarkan boneka tangan kepada konsumennya juga sangat terjangkau. Paling murah dari Rp 5.000. Terdapat pula dengan boneka karakter yang dipesanan secara khusus sebagai media pembelajaran dengan harga Rp 15.000.

Lewat bisnisnya ini, dia tidak hanya sekadar mengejar keuntungan. Namun bagaimana menghadirkan alat peraga edukatif untuk pembelajaran anak usia dini yang aman dan nyaman.

(rs/ren/fer/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia