Minggu, 23 Sep 2018
radarsolo
icon featured
Boyolali

Padusan, Mas dan Mbak Boyolali Siraman

Rabu, 16 May 2018 09:35 | editor : Fery Ardy Susanto

Tradisi padusan di Umbul Pengging, Banyudono, Boyolali, Selasa (15/4).

Tradisi padusan di Umbul Pengging, Banyudono, Boyolali, Selasa (15/4). (TRI WIDODO/RADAR SOLO)

Selain Umbul Tirto Marto Pengging, tradisi padusan juga digelar di Umbul Tlatar, Kecamatan Boyolali Kota. Serta Umbul Tirto Mulyo, Kecamatan Sawit. Padusan digelar warga secara mandiri.

BOYOLALI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali menggelar tradisi padusan di Pemandian Tirto Marto, Pengging, Kecamatan Banyudono, Selasa (15/5). Padusan diawali kirab padusan. Disusul siraman kepada Mas dan Mbak Boyolali.

Karnaval diramaikan, ratusan santri Taman Pendidikan Quran (TPQ) dan kelompok seni yang ada di Banyudono. Seperti biasa, kirab dimulai dari halaman Kantor Kecamatan Banyudono. Sejumlah peserta nampak membetangkan spanduk identitas TPQ masing-masing. Para santri juga membawa panji-panji ajakan menunaikan ibadah puasa.

Sesampainya di pemandian peninggalan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat tersebut, upacara budaya siraman dimulai. Mas dan Mbak Boyolali itu menempati spot yang telah disiapkan untuk mengawali prosesi padusan. Tak mengunggu lama, anggota Forkopimda langsung memulai prosesi tradisi padusan. Penyiraman air pertama kali dilakukan Wakil Bupati Boyolali, M. Said Hidayat.

Said berharap, tradisi padusan dimanfaatkan masyarakat untuk membersihkan diri menjelang puasa. Mengingat tradisi itu sudah berjalan lama.

”Padusan berarti mandi. Artinya, melakukan mandi untuk mensucikan diri menjelang puasa. Mensucikan diri lahir dan batin sebelum puasa itu makna sesungguhnya dari padusan,” kata Said kepada Jawa Pos Radar Solo.

Pemkab berharap ritual padusan mendongkrak pariwisata di Banyudono. Dampaknya, kegiatan ekonomi masyarakat sekitar berkembang melalui usaha warung makan, kerajinan, dan usaha lain.

Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Boyolali, Wiwis Trisiwi Handayani menambahkan, tradisi padusan sendiri telah lama digelar. Yaitu sejak jaman Wali Songo pada masa pemerintahan Kerajaan Demak.

Umbul Tirto Marto dahulu sering digunakan keluarga keraton dan abdi dalem untuk siram atau mandi menjelang bulan puasa. Pihaknya terus berupaya melestarikan tradisi tersebut hingga sekarang.

"Tujuanya untuk mensucikan diri dan hati sebelum menjalankan ibadah puasa. Kami ingin acara ritual ini menjadi destinasi wisata,” paparnya.

(rs/wid/fer/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia