Minggu, 19 Aug 2018
radarsolo
icon featured
Nasional

Objek Wisata Jateng Belum Ramah Difabel

Rabu, 16 May 2018 09:50 | editor : Fery Ardy Susanto

Keindahan alam objek wisata Grojogan Sewu, Tawangmangu, Karanganyar.

Keindahan alam objek wisata Grojogan Sewu, Tawangmangu, Karanganyar. (RABAR PAMUNGKAS FOR RADAR SOLO)

SEMARANG - DPRD Jawa Tengah meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) melengkapi fasilitas ramah difabel. Di objek-objek wisata se-Jateng. Karena kaum difabel juga harus diakomodasi dan berhak mendapat perlakuan sama. Terlebih, sejumlah objek wisata yang eksotis di Jateng masih belum ramah difabel.

Ambil contoh kawasan Dieng, wisata air terjun Grojogan Sewu, Karanganyar; wisata Gedongsongo, Kabupaten Semarang, dan sebagainya.

”Masih banyak objek wisata belum ramah kaum difabel. Padahal mereka juga berhak untuk menikmati keindahan wisata di Jateng,” kata Anggota Komisi B DPRD Jateng, Didiek Hardiana kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dieng misalnya. Untuk sampai ke lokasi, butuh waktu lama dan belum tentu kaum difabel mampu. Karena secara infrastruktur, menuju lokasi wisata masih belum bagus dan belum ramah difabel.

”Kami terus mendorong agar infrastruktur wisata ramah bagi semua orang. Karena itu objek wisata milik masyarakat Jateng,” ujarnya.

Politisi PDI Perjuangan ini menambahkan, bersama Pemprov Jateng, terus menggagas wisata ramah difabel. Dieng harus mendapat perhatian khusus. Mengingat potensinya sangat besar. Ia meminta pemprov benar-benar bisa membuat wisatawan betah dan kerasan di Jateng.

”Dieng misalnya harus diperbaiki infrastruktur dan dilengkapi dengan home stay yang menarik. Agar wisatawan bisa kerasan dan bisa meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar,” tambahnya.

Wakil Ketua Komisi B Yudi Sancoyo menyebut saat ini pihaknya terus menampung aspirasi terkait raperda desa wisata. Ia mencontohkan, pengelolaan Desa Wisata Ponggok di Klaten. Sangat bagus dan patut ditiru.

Bukan karena pesona wisata saja, namun juga mengapresiasi kinerja pemerintah desa setempat dalam mengelola wisata di sana. Pihak BUMDes Desa Ponggok mampu menghasilkan pendapatan hingga Rp 11 miliar per tahun. Serta pemasukan bagi APBDes sebesar Rp 5 miliar.

”Dengan jumlah sebesar itu, Desa Ponggok merupakan desa wisata paling kaya di Indonesia. Saya kira banyak potensi serupa di Jateng,” bebernya.

Saat ini legislatif sedang berupaya menyusun Perda tentang Pemberdayaan Desa Wisata di Jawa Tengah. Dengan adanya desa wisata saat ini, dapat menjadikan peluang lapangan pekerjaan kepada anak-anak muda di desa. Apalagi, sekarang ini, anak-anak muda kurang tertarik bertani di desa. (fth/zal/JPG/fer)

(rs/fer/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia