Rabu, 19 Sep 2018
radarsolo
icon featured
Ekonomi & Bisnis

Efisiensi, Bukopin Tekan Operasional 5 Persen

Rabu, 16 May 2018 10:15 | editor : Fery Ardy Susanto

Exclusive dinner with customer Bank Bukopin Cabang Solo.

Exclusive dinner with customer Bank Bukopin Cabang Solo. (EDY WIDODO/RADAR SOLO)

SOLO - Selama empat bulan pertama 2018, Bank Bukopin berhasil menurunkan biaya operasional sebesar 5 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2017. Yaitu dari Rp 907 miliar menjadi Rp 859 miliar. Perseroan telah melakukan sejumlah inisiatif untuk meningkatkan efisiensi. Di antaranya melalui digitalisasi Core Banking System yang berdampak pada efisiensi proses bisnis produk.

”Dengan penerapan digitalisasi Core Banking, telah terjadi migrasi transaksi dari outlet (kantor, Red) ke electronic channel lainnya sebesar 30 persen,” papar Direktur Keuangan dan Teknologi Informasi Bank Bukopin, Adhi Brahmantya, Selasa (15/5).

Selain itu, melalui peluncuran produk digital Wokee, Bukopin juga melakukan simplifikasi proses bisnis dan operasional. Di antaranya dengan efisiensi dalam pembukaan tabungan, serta transaksi tanpa buku dan kartu ATM (cardless). Wokee merupakan produk perbankan tabungan digital Bank Bukopin. Layanan tersebut menyediakan sejumlah fitur berbasis digital, mulai dari pembukaan rekening hingga transaksi perbankan secara online.

Langkah efisiensi juga dilakukan perseroan melalui evaluasi atas sejumlah biaya rutin perusahaan.

”Melalui langkah tersebut, selama empat bulan pertama tahun ini perseroan berhasil menekan biaya rutin. Kami menargetkan penurunan biaya rutin sebesar 10 persen hingga akhir tahun 2018,” jelasnya.

Selain melakukan efisiensi, Perseroan juga telah melakukan diversifikasi pendapatan secara bertahap melalui peningkatan fee based income. Upaya untuk memacu pendapatan nonbunga dilakukan melalui peluncuran produk Flexy Bill. Termasuk peningkatan volume bank garansi, transaksi public service, wealth management, serta program peningkatan usage kartu kredit.

Serangkaian langkah tersebut berdampak pada peningkatan fee based income Perseroan sebesar 41 persen dari Rp 252 miliar per April 2017 menjadi Rp 354 miliar pada April 2018.

“Saat ini Bank Bukopin melayani lebih dari 12 juta pelanggan ritel setiap bulannya melalui 20 ribu titik yang tersebar di seluruh Indonesia untuk transaksi public service,” terangnya.

Khusus untuk Flexy Bill yang baru diluncurkan Maret lalu untuk melayani kebutuhan nasabah dari kalangan usaha produktif. Menurut Adhi sejauh ini layanan tersebut telah mendapat respon positif dari nasabah. Flexy Bill merupakan produk dana talangan pembayaran tagihan public service untuk segmen kalangan usaha produktif. Di antaranya pada sektor manufaktur dan jasa. Sebagai dampak dari penurunan biaya operasional dan peningkatan fee based income, hingga April 2018 telah terjadi peningkatan laba sebelum CKPN Perseroan sebesar 33 persen (year-on-year), yaitu dari Rp 268 miliar pada April 2017 menjadi Rp 355 miliar per April 2018. (adv/edy)

(rs/fer/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia