Rabu, 19 Sep 2018
radarsolo
icon featured
Solo

Banyak Gedung di Solo Belum Punya Alarm Kebakaran

Jumat, 18 May 2018 13:00 | editor : Fery Ardy Susanto

Petugas Damkar Surakarta melakukan simulasi pemadaman api.

Petugas Damkar Surakarta melakukan simulasi pemadaman api. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

SOLO - Integrasi penanganan kebakaran di Kota Solo masih sangat minim. Dinas Pemadam Kebakaran (DPK) meminta agar pengelola fasilitas umum dan gedung bertingkat memasang alarm peringatan kebakaran yang terhubung dengan pusat pengendalian operasional (Pusdalops).

Kepala DPK Gatot Sutanto mengatakan, belum ada satu pun pemilik maupun manajemen gedung dan bangunan yang mengintegrasikan alarm dengan Pusdalops. Jika terjadi kebakaran, mereka langsung menghgubungi nomor telepon yang telah tersedia di kantor DPK. Namun, cara tersebut nyatanya kurang efektif untuk memadamkan si jago merah.

“Ada yang tidak tahu sama sekali nomor damkar jadi harus tanya sana-sini. Ada yang tahu tapi panik saat terjadi kebakaran, jadi sama saja. Kalau terintegrasi, tinggal nyalakan alarm, saat itu juga di pos kami sudah terdeteksi sekaligus titik lokasi kebakarannya,” terangnya, Kamis (17/5).

Dengan alarm yang terintegrasi, waktu pemadaman dapat dipercepat. Selain itu, perjalanan kendaraan damkar juga dapat tepat pada lokasi kejadian. Pasalnya selama ini tak sedikit warga yang memberikan alamat kurang jelas, sehingga mobil damkar salah gang atau bahkan salah kampung.

Khusus untuk bangunan yang dikelola swasta, Gatot ingin dibentuk manajemen penananganan kebakaran.

“Jadi saat kebakaran, si A tugasnya apa? Siapa yang menghubungi damkar? Siapa yang bertugas mengarahkan karyawan kantor untuk evakuasi dan sebagainya,” imbuhnya.

Penanganan bencana kebakaran dibutuhkan penanganan secara cepat dan melibatkan berbagai komponen. Apalagi dengan kondisi arus lalu lintas ke depan bakal semakin padat, sehingga kecepatan penanganan kebakaran sangat berpengaruh karena sesuai grafis api, jika terjadi kebakaran sepuluh menit lebih, maka api akan sulit untuk dipadamkan.

Tak hanya itu, ke depan gedung-gedung bertingkat juga terus bertambah. Hal ini pun bakal berdampak pada kepadatan bangunan.

“Kalau tidak cepat, bisa menyebar ke bangunan lain. Bahkan menimbulkan korban jiwa,” katanya.

Sekretaris Daerah (Sekda) Solo Budi Yulistianto mengatakan, pemkot mendukung kinerja DPK dengan segera menyelesaikan gedung kantor DPK. Bangunan di kawasan Jebres itu akan dilengkapi sarana edukasi hingga pusat pendidikan dan pelatihan bagi petugas pemadam kebakaran serta mess bagi peserta pelatihan pemadam kebakaran.

Terdapat tiga blok bangunan akan dibangun di atas tanah seluas 5.000 meter persegi. Blok I gedung akan dibangun tiga lantai, yakni basement, lantai I dan lantai II. Selain parkir, blok I dibangun sebagai pusat perkantoran pemadam kebakaran sekaligus pusat pengendalian dan operasi.

Pembangunan Blok I dikerjakan pada tahun anggaran 2017 dengan nilai total dana Rp 5,5 miliar. Sedangkan untuk Blok II dan III dikerjakan tahun ini.

“Setidaknya dana yang dibutuhkan untuk pembangunan tersebut mencapai Rp 20 miliar. Berbeda dengan pembangunan Blok I, Blok II dan III rencananya dibiayai pemerintah pusat. Pemkot akan mengajukan permohonan bantuan anggaran ke Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) untuk pembangunan lanjutan gedung pemadam kebakaran tersebut,” katanya.

(rs/irw/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia