Rabu, 13 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Features

Sulap Tong Sampah Jadi Penyimpan Baju Kotor Antijamur

22 Mei 2018, 16: 00: 59 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

Ifah bersama Dirty Clothes Container Fi-Fo hasil ide kreatifnya.

Ifah bersama Dirty Clothes Container Fi-Fo hasil ide kreatifnya. (SEPTINA FADIA PUTRI/RADAR SOLO)

Share this      

AKTIVITAS sehari-hari di boarding school yang supersibuk tak jarang membuat santriwan dan santriwati menumpuk pakaian kotor lantaran tidak sempat mencuci. Fenomena tersebut menginspirasi Izzatul Afifah untuk membuat alat Dirty Clothes Container Fi-Fo (First in-First out) System.

“Sebagai anak wisma kadang geli juga melihat tumpukan pakaian kotor di ember sampai tinggi banget. Sebenarnya dilihat juga nggak oke, tapi ya gimana memang nggak sempat nyuci,” kata Ifah, sapaan akrabnya, Senin (21/5).

Dia kemudian terpikir membuat alat sederhana yang cara kerjanya mirip tempat penyimpanan beras. Tapi, kegunaannya untuk menyimpan pakaian kotor agar tidak lembap dan tumbuh jamur.

“Di dalam alat ada tabung silinder pada bagian tengah dan empat sekat di sampingnya. Sekat ini fungsinya sebagai pemisah pakaian. Misalnya, khusus pakaian putih, pakaian berwarna, celana jins, dan pakaian lainnya. Tabung silinder ini berisi silica gel berfungsi menyerap kelembaban agar pakaian tidak berjamur,” beber santri kelas X SMA IT Nur Hidayah Boarding School.

Dengan sistem first in-first out, lanjut Ifah, pakaian yang kali pertama masuk alat bisa jadi pakaian yang kali pertama keluar untuk dicuci. Di bagian bawah alat terdapat empat pintu, sesuai dengan empat sekat ruang di dalam alatnya.

“Kalau ditumpuk di ember kan cuma pakaian di atas yang mudah diambil. Alat ini bisa mengambil baju dari tumpukan terbawah,” sambung dara manis kelahiran Grobogan, 30 Juni 2001.

Ifah mengklaim alat buatannya ini mampu menampung sebanyak 40 pakaian kotor. Masing-masing sekat muat sepuluh pakaian.

Untuk membuat alat tersebut, dia menghabiskan Rp 400 ribu. Bahan yang digunakan cukup sederhana, yakni drum plastik, silica gel, kawat, galvalum sebagai sekat, dan stainless steel untuk pintunya. Proses pengerjaannya pun hanya sepekan.

“Alat ini sudah diaplikasikan sama anak-anak wisma lainnya. Ini sudah produk kedua. Produk pertama diserahkan ke Panti Yayasan Nur Hidayah sebagai penerapan ke masyarakat,” kata anak keempat dari delapan bersaudara ini.

Tahun lalu, alat ini berhasil meraih juara dua lomba Kreasi dan Inovasi (Krenova) Kabupaten Sukoharjo. Ifah mengaku pihak sekolah dan teman-temannya memberikan respons positif.

“Pihak sekolah bilang alat ini unik, disarankan untuk mengurus paten juga. Rencana juga pengin dibisniskan. Tapi belum sempat karena terhambat kesibukan sekolah,” pungkasnya.

(rs/aya/fer/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia