Sabtu, 21 Sep 2019
radarsolo
icon featured
Features

Pemuda Ini Pernah Datangkan Imam Besar dari Mesir ke Indonesia

29 Mei 2018, 17: 25: 59 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

Organistor pmuda, Mahdi Xmuff.

Organistor pmuda, Mahdi Xmuff. (SEPTINA FADIA PUTRI/RADAR SOLO)

Share this      

MAHDI Xmuff paham, pemuda berkontribusi besar bagi kemajuan bangsa. Namun, keprihatinannya muncul saat melihat generasi muda saat ini cenderung apatis dengan kondisi sosial di masyarakat.

Fenomena itu mendorong Mahdi yang seorang organisatoris membentuk komunitas Generasi Pemuda Muslim (GPM).

“Komunitas ini sebagai wadah bagi pemuda muslim berkumpul menjadi satu kesatuan. Orientasinya kegiatan sosial yang diiringi dakwah. Sehingga para pemuda muslim di Kota Bengawan lebih mengenal nilai-nilai agama,” beber Mahdi, alumni Pondok Pesantren (Ponpes) SMA Majelis Tafsir Alquran (MTA) Surakarta tersebut.

Komunitas tersebut tidak hanya mendekatkan para pemuda muslim pada nilai agama, tapi, juga dilengkapi dengan praktik amalannya. Beragam aksi sosial diselenggarakan. Mulai dari Jumat Muslimin dengan berbagi nasi bungkus kepada dhuafa, memberikan bantuan bencana, turut berkontribusi dalam pembangunan infrastruktur masjid, sampai berkurban.

Khusus Ramadan, Mahdi mengajak komunitasnya mengadakan buka bersama anak yatim dan kegiatan Qiyamul Lail 30 hari 30 juz bersama imam-imam muda Palestina dan Mesir.

“Ramadan ini sudah kali kedua GPM menggelar kegiatan Qiyamul Lail. Kami menggandeng imam-imam muda pilihan. Diselenggarakan di Masjid Marwah, Semanggi, Pasar Kliwon. Tiap pukul 22.30 setiap hari,” sambung pria kelahiran Solo, 17 Februari 1988 ini.

Dipilihnya jam tersebut bukan tanpa alasan. Menurut Mahdi, jam tersebut biasa digunakan kaum muda untuk nongkrong dan melakukan kegiatan tidak berfaedah. Nah, agar mereka terfasilitasi kegiatan positif, tidak sekadar membuang waktu, dan bernilai pahala, dia mengajak para pemuda bergabung melaksanakan Qiyamul Lail.

“Menarik perhatian anak muda, kami sediakan kopi arab, teh hangat, lengkap dengan makanan ringan lainnya. Seperti kebab, roti maryam, sambosa, cake bumbu arab, risol mozzarella, martabak, dan masih banyak lainnya,” imbuh alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Imam-imam yang dipilih pun tidak sembarangan. Semua imam adalah hafidzul quran. Sebut saja, Ustad Faiz Ja’far Baraja, Imam Besar Masjid Marwah Syeikh Musad Ghunaim dari Mesir, Ustad Abdul Aziz Maarif dari Jogokaryan Jogjakarta, Ustad Abdullah Rifqi dari Pondok As Surkaty Salatiga, dan masih banyak lagi.

“Alhamdulillah, sejak tahun pertama sampai sekarang yang hadir kegiatan ini mencapai 300 jamaah tiap malam. Nanti, saat medio Ramadan bisa mencapai lebih dari 500 peserta,” katanya.

Mahdi tidak cepat puas. Dia kemudian membentuk beberapa kelompok kecil lain yang membidangi berbagai kegiatan sosial. Yakni Kuliner Halal Indonesia (KLH). Kelompok ini bertujuan memastikan menu yang dikonsumsi umat muslim benar-benar halal.

“Kelompok ini juga fokus menyalurkan makanan halal ke masyarakat duafa di Kota Solo,” sambungnya.

Kelompok lainnya yang dibentuk Mahdi adalah Info Wafat. Ini merupakan grup sosial khusus menginformasikan tentang kematian warga keturunan Arab di Indonesia. Terutama di wilayah Kota Solo. Dengan adanya kelompok ini, dapat menyatukan masyarakat keturunan Arab saat ada kerabat yang meninggal dunia.

“Saya punya cita-cita membentuk komunitas anak muda kelas nasional. Rencananya saya beri nama Pemuda-Pemudi Indonesia. Saya sudah menghubungi teman-teman di daerah lain. Mereka siap membantu jika komunitas nasional ini akan dibentuk,” pungkasnya.

(rs/aya/fer/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia