Rabu, 22 Aug 2018
radarsolo
icon featured
Karanganyar

Tutup Pintu Masuknya Radikalisme

Jumat, 08 Jun 2018 17:15 | editor : Fery Ardy Susanto

Pembukaan seminar anti terorisme di rumah dinas Bupati Karanganyar, Kamis (7/6).

Pembukaan seminar anti terorisme di rumah dinas Bupati Karanganyar, Kamis (7/6). (RUDI HARTONO/RADAR SOLO)

KARANGANYAR - Partisipasi orang terdekat dengan masyarakat disekeliling tempat tinggalnya, menjadi kunci mematahkan paham dan ajaran radikalisme.

Hal tersebut juga disampaikan Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah (Jateng), Budiyanto saat menjadi salah satu pembicara pada Seminar Nasional Menangkal Paham Radikalisme dan Ekstrimisme di Pendapa Rumah Dinas Bupati Karanganyar, Kamis (7/6).

Budi meyakini masyarakat dan orang terdekat menjadi salah satu kunci untuk penanggulangan penyebaran paham terorisme.

”Tingkatkan hubungan dengan sesama, itu jadi kuncinya,” kata Budiyanto.

Tetapi, fakta di lapangan kadang berkata lain. Aksi teror bom bunuh diri di Surabaya melibatkan satu keluarga. Budiyanto menyinggung perilaku itu dihadapan mahasiswa Akper 17 Karanganyar yang didominasi perempuan dan sejumlah tamu undangan.

Dia menyampaikan bahwa paham radikal tidak bisa dihentikan, meskipun pelaku sudah meninggal. Ajaran dan pengkaderan paham radikalisme dilakukan masif, terorganisir, sistemik. Dia memaparkan data intelijen ada 39% pemuda di Indonesia sudah paham tentang radikalisme.

”Rata-rata usia 18-24 tahun. Ada tujuh kampus terserang paham radikalisme, perlu segera disadarkan. Minimal ketika pemerintah mengumumkan tujuh kampus itu maka menjadi perhatian masyarakat juga,” ujarnya.

Kabag Analisis Direktorat Intelkam Polda Jateng, AKBP Budi Agus Setiawan menyampaikan, ciri-ciri terorisme antara lain adalah tidak toleransi kepada lingkungan di sekelilingnya, revolusioner, atau sering menggunakan kekerasan. Semua ciri tersebut dapat mempengaruhi pola perilaku seseorang.

Karanganyar juga termasuk daerah yang rawan disusupi paham terorisme, bahkan beberapa kali tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror menangkap sejumlah warga Karanganyar karena diduga terkait aksi terorisme.

”Rata-rata masuknya ke radikal premanisme. Karanganyar menjadi salah satu daerah rawan teroris. Ada napiter, mantan napiter, dan lain sebagainya di Karanganyar,” jelasnya.

(rs/rud/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia