Rabu, 22 Aug 2018
radarsolo
icon featured
Sukoharjo

Karyawan RSIS Mogok Kerja

Jumat, 08 Jun 2018 20:15 | editor : Fery Ardy Susanto

Mediasi antara karyawan dengan jajaran direksi RSIS Yarsis.

Mediasi antara karyawan dengan jajaran direksi RSIS Yarsis. (ISTIMEWA)

SUKOHARJO - Polemik yang terjadi di Rumah Sakit Islam Surakarta (RSIS) Kartasura, Sukoharjo semakin meruncing. Karyawan mengancam mogok kerja. Ini terjadi usai mediasi dengan jajaran direksi, Kamis (7/6).

Wakil Sekretaris Serikat Pekerja RSIS, Suyamto mengatakan, pihaknya sudah melakukan beberapa kali mediasi dengan jajaran direksi. Namun, sampai saat ini direksi tidak bersedia memenuhi tuntutan.

”Karyawan menyodorkan empat tuntutan," papar dia.

Empat tuntutan tersebut adalah pelunasan sisa 25 persen Tunjangan Hari Raya (THR) 2017. Pelunasan gaji yang dihutang rumah sakit. Meminta rumah sakit melunasi tunggakan iuran BPJS. Terakhir, pembayaran THR 2018. Terkait hal tersebut karyawan melakukan mogok kerja selama 30 hari.

Hal itu terhitung sejak 14 Juni ini. Sebab, dua kali pertemuan itu gagal memberikan solusi untuk karyawan. Mereka juga kecewa dengan kebijakan rumah sakit selama ini. Sampai saat ini izin operasional belum turun. Selain itu, ada karyawan yang dirumahkan.

Untuk itu, mereka meminta kejelasan. Sebab mereka juga memiliki tanggungan anak di rumah. Mereka sampai saat ini terus berjuang demi mendapatkan hak mereka. Bahkan, dua kali perundingan belum berbuah solusi.

Direktur Utama RSIS, M. Djufri mengatakan, tuntutan karyawan masih sama. Pihaknya mengaku belum bisa memberikan THR.

”Sebenarnya ada uang operasional di bank, Rp. 5,2 miliar tapi di blokir Yarsis," papar dia.

Menurut dia, uang tersebut adalah uang operasional rumah sakit. Uang tersebut dibekukan pada 2011 saat konflik dulu. Bila itu bisa dicairkan persoalan THR ini bisa diselesaikan. Menurut Djufri itu adalah solusi paling pendek.

Menurut dia, uang Rp 5,2 miliar tersebut disimpan di lima bank berbeda. ”Itu bukan uang yayasan, ini uang operasional. Disimpan atas nama rumah sakit,” kata dia.

Kepala Dinas Kesehatan Nasrudin mengatakan, untuk RSIS memang belum mendapatkan izin operasional. Dinas bahkan sudah mengirimkan surat peringatan pada direksi RSIS.

”Kalau operasionalnya memang kami sudah beri peringatan untuk tidak beroperasi sebelum izin turun,” katanya. 

(rs/yan/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia