Minggu, 19 Aug 2018
radarsolo
icon featured
Features

Sosok Wanita Sukses Pebisnis Kerajinan Aksesoris

Minggu, 10 Jun 2018 13:38 | editor : Fery Ardy Susanto

Sosok Wanita Sukses Pebisnis Kerajinan Aksesoris

SITI Muslikah memulai bisnis aksesoris wanita sejak 1,5 tahun lalu. Perempuan 51 tahun ini selalu memiliki desain baru dalam setiap produknya.

Dia mengawali bisnis ini saat resign dari pekerjaannya. Bukan apa-apa, karena dia terdorong untuk mengurus orang tuanya. Dia mulai berpikir memulai usaha dari rumah. Akhirnya, di 2017, dia mulai mengembangkan bisnis aksesori.

Bisnis tersebut dipilih karena perempuan makhluk antikrisis. Di mana pun berada, pasti wanita menyukai aksesori. Dari bekal seni yang didapatnya saat kuliah dulu, perempuan yang akrab disapa Ika ini kemudian mulai membuat aksesori yang unik berbahan perca batik dan mote.

”Mulai dari anting, gelang, kalung hingga kain batik saya buat dan saya kreasikan sendiri. Akhirnya cukup banyak yang saya dapat ketika saya memiliki banyak waktu luang,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Solo di rumahnya di Kartasura, Sukoharjo.

Setelah jadi, kreasinya ditawarkan satu per satu ke sejumlah toko batik terkemuka. Mulai dari Gunawan Muhammad, Mirota hingga beberapa gerai terkenal lainnya. Total hingga saat ini ada tujuh gerai. Keuntungannya mulai dari bagi hasil, jual beli, hingga konsinyasi.

 ”Awalnya saya memang hanya bermodal nekat saja. Karena memang tidak memiliki kenalan dan jaringan. Makanya saya datangi satu per satu gerai batiknya untuk menawarkan produk aksesori saya,” ujarnya.

Selain itu, Ika juga aktif mengikuti pameran usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang digelar oleh berbagai macam event dan instansi. Dari sini dirinya mempunyai banyak jaringan untuk memasarkan produk. Bahkan kini buyer-nya ada yang berasal dari Singapura dan Perancis.

”Di Sumbawa, saya dapat teman petani mutiara. Saya bisa kerja sama mendatangkan bahan mutiara dari sana,” ujar ibu tiga anak ini.

Harganya yang ditawarkan beragam. Mulai dari Rp 5 ribu hingga jutaan rupiah.

”Saya jarang membuat desain produk itu sama. Jadi paling yang sama hanya saya buat lima item saja, kemudian saya buat desain lainnya. Sebab saya sadar kalau saya cepat bosan. Makanya saya lebih senang berkreasi,” tuturnya.

Baru berjalan 1,5 tahun, omzetnya puluhan juta rupiah.

”Memang ada yang meniru desain saya. Tapi tidak masalah dan saya juga tidak keberatan. Saya tidak khawatir, karena selalu ganti desain terus. Kalau memang ada yang meniru, itu justru menjadi pahala bagi saya. Karena bisa mendatangkan rezeki bagi orang lain,” ujarnya.

Karena desain yang terus berganti, Ika jarang menjual barangnya via online. Ika pasang target bisa ekspor. Selama ini, selain Singapura dan Prancis, produknya juga menembus pasar Sidney, Australia.

"Belum ekspor, barus sebatas titip teman. Mungkin saya ingin mencoba ekspor," tandasnya.

(rs/vit/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia