Senin, 20 Aug 2018
radarsolo
icon featured
Features

Beratnya Ramadan di Rantau

Minggu, 10 Jun 2018 14:00 | editor : Fery Ardy Susanto

Gadis Ghofar Iswara

Gadis Ghofar Iswara (ISTIMEWA)

MERANTAU bukanlah hal baru bagi Gadis Ghofar Iswara. Sejak kuliah, Gadis–sapaan akrabnya–sudah terbiasa jauh dari orang tua. Meski sama-sama merantau, ternyata ia justru lebih merasa homesick saat bekerja. Apalagi saat harus menjalani ibadah puasa Ramadan.

Mungkin karena jaraknya lebih jauh. Dulu saat kuliah kan cuma Ngawi-Solo. Sekarang aku kerja di luar kota. Selain itu, saat sudah bekerja jadi semakin merasa hidup mandiri,” kata dara berhijab kelahiran 10 Juni 1994.

Nah, kalau Gadis sudah mulai terasa homesick, solusinya adalah menelpon sang bunda. Bahkan di sela-sela kesibukannya saat bekerja, Gadis selalu mencuri-curi waktu untuk berbicara dengan sang bunda sebagai obat penawar rindu.

“Homesick itu kalau sudah terasa capek banget. Kan pas kerja kegiatannya lebih padat. Beda pas masih kuliah punya banyak waktu buat main dan sesekali pulang ke rumah,” sambung staf BPJS Kesehatan ini.

Inilah yang membuat Ramadan tahun ini berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Gadis selalu kebingungan saat waktu berbuka puasa dan makan sahur tiba. Sebab, ia harus menyiapkan semuanya sendiri.

“Bersyukurlah kalian yang menjalani Ramadan dengan keluarga tercinta. Karena anak rantau hanya bisa homesick. Apalagi waktu sahur, yang biasanya dibangunin mama, sekarang harus mandiri. Bangun sendiri dan cari sahur sendiri,” beber alumni Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS). 

Beruntung, Gadis punya rekan-rekan kerja yang selalu menemaninya berbuka puasa selepas jam kantor selesai. Biasanya ia dan rekan-rekannya menuju ke pusat kuliner untuk memilih menu buka puasa yang beraneka ragam.

“Yang paling ditunggu saat Ramadan adalah undangan buka bersama. Baik dengan keluarga, teman masa kecil, atau teman kuliah. Agenda buka bersama ini selalu terasa menyenangkan,” imbuhnya.

Bagi perantau seperti Gadis, Hari Lebaran adalah saat yang tidak boleh dilewatkan. Ia bisa berkumpul dengan keluarga besar dan menikmati waktu bersama tanpa memikirkan pekerjaan. Meskipun beberapa pekan sekali ia bisa pulang kampung, namun momen Lebaran adalah pulang kampung yang istimewa.

“Feel-nya beda aja. Kalau Lebaran kan bisa kumpul keluarga besar lengkap. Bisa piknik atau belanja bareng. Keseruan itu yang nggak bisa dirasakan kalau bukan di Hari Lebaran,” tandasnya.

(rs/aya/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia