Selasa, 13 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Kesehatan

Stop Diskriminasi Jenazah Penderita HIV/AIDS

Senin, 11 Jun 2018 15:20 | editor : Fery Ardy Susanto

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Wonogiri, Adhi Dharma.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Wonogiri, Adhi Dharma. (IWAN DWI WAHYU/RADAR SOLO)

WONOGIRI - Jenazah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) masih sering mendapat diskriminasi dari masyarakat. Sebab, kebanyakan dari mereka takut memandikan lantaran khawatir tertular penyakit. Maka perlu edukasi di masyarakat agar tidak terjadi salah paham.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Wonogiri, Adhi Dharma mengatakan, masing – masing desa di Wonogiri memiliki Warga Peduli Aids (WPA). Dengan memberikan pelatihan dan bimbingan diharapkan mereka bisa mengurangi diskriminasi pada jenazah orang dengan HIV/AIDS.

Menurut Adhi Dharma pada prinsipnya penanganan jenazah penderita HIV/AIDS sama dengan jenazah penderita infeksius lainnya, hanya lebih menitikberatkan pada alat pelindung diri.

”Selama ini pemulasaraan jenasah penderita HIV/AIDS dilakukan oleh Puskesmas atau RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso,” kata Adhi Dharma.

Alat pelindung diri (APD) yang dibutuhkan dalam pemulasaraan jenazah ODHA ini sangat mudah didapatkan di pasaran dan terjangkau dari segi harga. APD tersebut diantaranya sarung tangan (handscoone), celemek plastik (aprone), penutup kepala (hairnet), penutup hidung (masker), kacamata dan sepatu bot.

”Memang ada virus yang bisa bertahan lama, tapi virus HIV/AIDS hidup pada sel T darah, selama masih ada dalam darah dia akan menularkan. Tapi kalau sudah tidak ada dalam darah tidak akan menularkan jadi harus dipahami dan tidak perlu khawatir,” katanya. 

(rs/kwl/fer/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia