Minggu, 19 Aug 2018
radarsolo
icon featured
Features

Ibu-Ibu Katolik Siapkan Takjil untuk Umat Muslim

Senin, 11 Jun 2018 16:30 | editor : Fery Ardy Susanto

Ibu-ibu umat Katolik menyiapkan takjil di Desa Ngering, Jogonalan.

Ibu-ibu umat Katolik menyiapkan takjil di Desa Ngering, Jogonalan. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

MOMEN Ramadan dimanfaatkan umat Katolik dan Islam di Desa Ngering, Kecamatan Jogonalan untuk mempererat kebersamaan. Diwujudkan dalam penyediaan takjil untuk masjid dan musala desa setempat.

Menyusuri perkampungan di Desa Ngering, Kecamatan Jogonalan membuat Jawa Pos Radar Solo menghentikan langkahnya pada sebuah rumah kuno berbentuk Joglo. Tampak halaman depan yang cukup luas dengan ditumbuhi tanaman pisang. Kediaman itu milik Chatarina Suhartini, 69, warga di RT 01 RW 01, Dusun Ngering Bakung.

Saat memasuki dapur, terdapat delapan ibu-ibu sedang membuat es buah. Ada yang memotong buah, agar-agar, hingga menyiapkan sirup sebagai pemanis. Mereka tak lain ibu-ibu umat Katolik dari Lingkungan Santo Yusup, Desa Ngering.

Setiap Minggu, mereka berkumpul di rumah Suhartini untuk membuat 100 porsi takjil. Dibagikan kepada umat muslim untuk santapan berbuka puasa di masjid dan musala setempat. Pembuatan takjil memanfaatkan uang kas lingkungan umat Katolik setempat sebesar Rp 800 ribu.

Selaimn es buah, menu takjil yang dibagikan di pekan-pekan sebelumnya berupa kolak dan cap jay. Dibaikan kepada umat muslim di Masjid Miftahul Jannah dan Musala Al Darojat.

”Sudah tiga tahun kami laksanakan kegiatan bagi-bagi takjil. Diawali dari perenungan kami saat masa Pra-Paskah mengenai toleransi antarumat beragama. Tidak hanya jadi diskusi saja, tetapi menjadi aksi nyata Paskah kami lewat pembuatan takjil setiap kali memasuki bulan Ramadan,” terang Susana Sumarni, 65.

Susana menceritakan, sebelum membuat takjil, sudah meminta izin kepada pengurus masjid dan jamaah di sekitarnya. Ternyata, niat mulia mereka mendaoat sambutan positif.

”Sebenarnya tradisi toleransi antarumat beragama di Desa Ngering tidak sekadar pembuatan takjil saja. Saat salat Idul Fitri, pemuda-pemuda Katolik di desa kami ikut menjaga dan menata parkir jamaah. Begitu juga sebaliknya saat ada perayaan Natal, giliran umat muslim yang ikut mengamankan,” tandas Susana.

Kebersamaan antarumat beragama juga diperlihatkan pada acara halal bihalal. Warga saling menyapa dan bersilaturahmi satu sama lainnya. Gambaran toleransi antarumat beragama ini diamini Supini, 52.

”Selama ini memang tidak ada permasalahan terkait pemberian takjil, meski kami berbeda keyakinan. Karena guyub rukun ini sudah terjalin dari kegiatan arisan maupun pertemuan PKK. Kami berusaha saling menjaga toleransi,” bebernya.

(rs/ren/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia