Rabu, 22 Aug 2018
radarsolo
icon featured
Klaten

Rela Berdesakan Demi 2,5 Kg Beras Zakat

Selasa, 12 Jun 2018 11:08 | editor : Fery Ardy Susanto

Seorang perempuan paro baya mencoba masuk ke area pembagian zakat berupa paket beras 2,5 kg di Halaman Kodim 0723/Klaten, Senin (11/6).

Seorang perempuan paro baya mencoba masuk ke area pembagian zakat berupa paket beras 2,5 kg di Halaman Kodim 0723/Klaten, Senin (11/6). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

KLATEN - Jelang Hari Raya Idul Fitri, sejumlah instansi mulai menyalurkan zakat. Salah satunya jajaran Kodim 0723/Klaten, Senin (11/6) pagi. Terdapat 1.100 paket berisikan 2,5 kg beras yang dibagikan kepada masyarakat kurang mampu. Pembagian zakat juga dilakukan di 24 Koramil yang tersebar di seluruh wilayah Klaten.

Di Makodim 0723/Klaten, sebanyak 750 paket beras dibagikan merata kepada masyarakat yang telah memegang kupon. Meski harus mengantre sampai siang, warga rela berdesakan demi beras zakat tersebut.

”Berdasarkan instruksi dari bupati dan Kementerian Agama (Kemenag), mewajibkan setiap instansi memberikan zakat kepada fakir miskin. Tujuannya agar yang memberikan zakat ini bersih dalam menghadapi Hari Raya Idul Fitri. Termasuk meringankan beban masyarakat yang kurang mampu,” kata Dandim 0723/Klaten, Letkol Inf Eko Setyawan kepada Jawa Pos Radar Solo.

Dandim menambahkan, beras zakat ini berasal dari anggotanya serta para istri. Masing-masing wajib membayarkan zakat dalam bentuk beras 2,5 kg. Hingga akhirnya terkumpul 1.100 paket. Adapun total nominal beras yang dibagikan tiap paket sebesar Rp 25 ribu.

”Untuk 750 paketnya memang kami bagikan kepada masyarakat sekitar Kodim, diutamakan fakir miskin. Sedangkan di masing-masing Koramil kami berikan 15 paket. Total di wilayah kami bagikan 360 paket. Rata-rata yang kami data profesinya tukang becak,” tandas dandim.

Eko berharap pemberian zakat dalam bentuk paket beras ini dapat mendidik para anggotanya. Terutama anggota yang beragama Islam. Hal ini bisa menjadikan contoh teladan dalam keluarga.

Purwanti, 38, mengaku antre dua jam demi mendapat zakat. Perjuangannya kian berat karena harus menggendeong anaknya yang masih berusia 1 tahun. Selama ini Purwanti hanya kerja serabutan. Penghasilannya sebagi buruh pas-pasan. Sedangkan suaminya hanya bekerja sebagai petani.

”Senang sekali bisa mendapatkan beras zakat meski harus antre lama dan berdesak-desakan dengan warga lainnya. Rencananya beras ini akan saya masak nanti saat Lebaran,” jelasbeber perempuan asal Desa Sekarsuli, Kecamatan Klaten Utara ini.

(rs/ren/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia