Jumat, 21 Sep 2018
radarsolo
icon featured
Travelling

Serunya Lomba Gethek dan Tangkap Bebek

Rabu, 20 Jun 2018 14:00 | editor : Fery Ardy Susanto

Lomba Gethek di Rowo Jombor, Selasa (19/6).

Lomba Gethek di Rowo Jombor, Selasa (19/6). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

KLATEN - Ratusan orang memadati Rowo Kombor, Desa Krakitan, Bayat, Klaten, Selasa (19/6). Menyaksikan lomba gethek dambil menangkap bebek. Lomba ini merupakan rangkaian tradisi syawal.

Lomba diikuti 78 peserta yang berasal dari perwakilan 26 kecamatan. Plus dari jajaran organisasi perangkat daerah (OPD), Polres Klaten, dan Kodim 0723/Klaten. Lomba dibagi dua kategori, yakni umum dan pelajar. Memperebutkan trofi dan uang pembinaan jutaan rupiah.

Bupati Klaten, Sri Mulyani mendapat kehormatan melepas bebek ke tengah Rowo Jombor untuk diperebutkan para peserta. Pemenang lomba ditentukan pada keberhasilan menangkap bebek yang bertanda khusus.

Mengejar bebek dalam Lomba Gethek di Rowo Jombor, Selasa (19/6).

Mengejar bebek dalam Lomba Gethek di Rowo Jombor, Selasa (19/6). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

”Lomba ini upaya kami untuk meletarikan gethek sebagai moda transportasi tradisional. Sekaligus menyemarakkan kembali kegiatan pariwisata di Rowo Jombor. Tak lupa menanamkan rasa cinta wisata bahari kepada warga sekitar,” jelas Camat Bayat, Edy Purnomo kepada Jawa Pos Radar Solo.

Peserta lomba dibagi atas tim yang terdiri dari dua orang. Adu cepat menaiki gethek sejauh 100 meter. Menariknya, peserta dilarang memakai dayung, melainkan pakai tangan untuk menggerakkan gethek. Demi keamanan, peserta wajib memakai pelampung.

”Kami ingin menciptakan media olahraga yang mudah dan murah di kalangan masyarakat dan pelajar. Di sisi lain, memberikan wadah bagi apresiasi olahraga tradisional. Mengingat potensi olahraga dengan memanfaatkan Rowo Jombor ini cukup besar. Sayang sekali kalau tidak dioptimalkan,” tandas Edy.

Sementara itu, salah seorang peserta lomba asal Desa Candirejo, Kecamatan Ngawen, Tofan, 37, mengaku tertarik ikut lomba karena iming-iming hadiahnya.

”Tidak ada persiapan sama sekali, hanya sarapan pagi saja untuk kekuatan mendayung pakai tangan. Ternyata capek juga, tapi cukup seru dan menantang. Tidak semudah yang dibayangkan. Ini saja rasanya tangan sudah pegal-pegal,” ujarnya.

Meski gagal menang, Tifan menyambut positif terhadap kegiatan olahraga tradisional tersebut. Ia berharap perlombaan gethek tradisional ini bisa digelar rutin., Tentunya dengan kemasan yang lebih menarik.

”Biar wisatawan yang datang lebih banyak. Otomatis perekonomian warga sekitar Rowo Jombor ikut terangkat,” ucapnya.

(rs/ren/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia