Minggu, 19 Aug 2018
radarsolo
icon featured
Features

Kisah Keluarga Polisi Korban Aksi Terorisme

Minggu, 24 Jun 2018 18:43 | editor : Fery Ardy Susanto

Ninik Purwanti (tiga dari kiri) dan Niken Sri Parawani (empat dari kiri) saat terima bantuan.

Ninik Purwanti (tiga dari kiri) dan Niken Sri Parawani (empat dari kiri) saat terima bantuan. (ANTONIUS CHRISTIAN/RADAR SOLO)

NINIK Purwanti dan Niken Sri Parawani bernasib serupa. Suami mereka yang tercatat sebagai anggota Polresta Surakarta gugur karena serangan aksi teroris. Keduanya masih ingat detik-detik memilukan enam tahun silam itu.

Belum hilang dari ingatan Niken suaminya, Aipda Dwi Data Subekti mendapat tugas jaga di Pos Polisi Matahari Singosaren, 30 Agustus 2012 sekitar pukul 21.15 WIB. Malam sebelum kejadian, perempuan berkerudung itu merasakan suaminya yang tadinya periang menjadi pendiam.

“Saya ingat 4 hari sebelum meninggal, waktu itu lagi buka puasa sama anak-anak juga, beliau sempat bilang, bu kalau saya meninggal apa ibu mau nikah lagi? Kaget juga kok tiba-tiba tanya seperti itu, tapi raut mukanya serius,” ujarnya.

Tapi, karena Dwi Data dikenal senang guyon, Niken tidak menjawab pertanyaan itu.

“Malah kami bercanda semua ketawa-ketawa sama pertanyaan bapak. Namun, kok bapak kok tidak ketawa, Cuma senyum sedikit habis itu diam,” kenang Niken

Pada hari kejadian, Niken merasa hatinya tidak tenang saat sang suami berangkat bertugas dari rumah mereka di Perumahan Ngringo Indah, Jaten, Karangnyar sekitar pukul 20.30. Tapi, dia tidak bisa melarang sang suami berangkat tugas karena sudah menjadi kewajibannya.

“Hati ini kok berat waktu bapak pamit mau berangkat. Saya lihat wajah bapak pucat. Terus waktu pamit juga cuma nepuk bahu saya. Kemudian saya antar sampai teras rumah. Baru sampai pagar gerbang, menoleh lagi ke arah saya. Beliau melihat saya sekitar sepuluh menit. Saya tanya, ada apa pak, beliau cuma menggelengkan kepala terus berangkat,” urainya.

Sekitar setengah jam setelah suaminya meninggalkan rumah, pintu rumah Niken diketuk tetangga yang memberi kabar bahwa Dwi Data menjadi korban aksi terorisme.

Niken tak percaya begitu saja karena suaminya belum lama berangkat tugas. Ibu tiga putra ini lantas menghubungi handphone milik Dwi Data namun tidak ada respons. Akhirnya dia menelepon salah seorang anggota Polsek Serengan.

Setelah itu, dia baru percaya suaminya menjadi sasaran tembakan beruntun teroris saat berjaga di pos polisi Matahari Singosaren. Namun, kala itu Niken belum tahu kalau sang suami telah wafat.

“Baru sadar kalau bapak meninggal saat diantar rekan bapak ke ruang jenazah RSUD Dr. Moewardi. Saya langsung lemas ketika lihat tubuh bapak sudah ditutupi selimut putih, dan melihat seragam bapak yang penuh darah di samping ranjang,” katanya.

Niken berusaha tegar karena dirinya ingat masih punya anak yang harus dibesarkannya.

“Waktu saya lihat wajahnya, seperti sedang senyum. Itu yang buat saya sedikit ayem (tenang, Red),” katanya.

Meskipun sudah enam tahun berlalu, rasa trauma masih menyelimuti Niken. Dia akan langsung mematikan televisi apabila ada berita tentang terorisme. Selain itu, sampai sekarang Niken tidak berani apabila diajak ke Matahari Singosaren.

“Kalau kebetulan lewat sana, pasti tidak berani lihat ke arah pos polisi. Selalu ingat bapak,” ucapnya.

Serupa dirasakan Ninik Purwanti. Suaminya Aipda Endro Margiyanto wafat juga karena serangan teroris. Endro mengalami sakit selama 3,5 tahun karena peluru pelaku mengenai organ ginjalnya.

Ketika kejadian, suaminya sedang bertuas pos pam simpang empat Gemblegan. Ada dua orang berboncengan sepeda motor melintas dari barat kemudian berbelok ke utara sambil menembaki pos pam tempat Endro berjaga.

“Kalau tidak salah ada 15 kali tembakan,” kata Ninik.

Dari berondongan timah panas itu, salah satunya menembus pinggang kiri Endro. Dia segera dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Islam (RSUI) Kustati lalu dirujuk ke RS Kasih Ibu.

Tiga bulan setelah keluar dari rumah sakit, Endro tidak bertugas sampai dinyatakan pulih oleh dokter kemudian ditempatkan di Urkes Bag Sumda Polresta Surakarta.

“Hati saya sempat ayem bapak sembuh,” ucapnya.

Masalah muncul karena Endro ternyata mengidap diabetes sehingga luka bekas tembakan tak kunjung sembuh. Sehingga harus beberapa kali dirawat di rumah sakit.

Enam bulan kemudian, raga Endro tidak mampu lagi menahan sakit sampai akhirnya meninggal dunia pada pada 30 Maret 2016.

“Saya bangga sama bapak. Walau jadi korban, sudah memaafkan kejadian tersebut. Dan bapak berpesan kalau kita jangan jadi orang pendendam. Hal ini yang terus saya tanamkan kepada anak-anak saya,” pungkasnya.

(rs/atn/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia